
Propertynbank.com – Perubahan gaya hidup masyarakat urban kembali menggeser wajah pusat belanja di Jakarta. Jika dulu mal identik dengan ruang tertutup berpendingin udara, kini konsep ruang terbuka dan area komunal justru menjadi daya tarik utama. Tren outdoor is the new indoor mendorong pengelola ritel menghadirkan pengalaman belanja yang lebih cair, sosial, dan relevan dengan preferensi generasi baru.
Menurut General Manager Knight Frank Indonesia, Frank Tumewu, transformasi ini tidak terlepas dari perubahan perilaku konsumen pascapandemi. Pusat perbelanjaan yang mampu menghadirkan pengalaman (experience-led retail), desain inovatif, serta kurasi tenant yang kuat terbukti lebih unggul dalam fase pemulihan pasar. Konsep open-air lifestyle dan ruang interaksi sosial menjadi elemen pembeda di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Sektor makanan dan minuman (FnB) tercatat sebagai motor pertumbuhan paling konsisten sepanjang 2025. Sejumlah brand internasional memperluas ekspansi mereka ke Jakarta, seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha. Kehadiran tenant baru ini memperkuat daya tarik mal, khususnya di segmen premium,” ujar Frank, Kamis (26/2).
Memasuki akhir 2025, performa ritel menunjukkan pola yang terbelah (bifurkasi). Ritel kelas menengah atas relatif stabil bahkan menguat, didorong kualitas bangunan, tenant mix yang terkurasi, lokasi strategis, serta tingkat kunjungan yang solid. Sebaliknya, ritel kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan dan harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan okupansi. Fenomena flight to quality pun tak terhindarkan, di mana konsumen dan brand cenderung memilih pusat belanja dengan kualitas terbaik.
Tambahan Pusat Belanja Baru
Secara data, total pasokan mal di Jakarta pada semester II-2025 tercatat naik sekitar 1% secara tahunan menjadi 4.377.690 meter persegi, dengan tambahan dua pusat belanja baru di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Rerata tingkat okupansi meningkat tipis menjadi 77,9%, sementara harga sewa rata-rata terkerek sekitar 1,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain FnB, kategori fashion, beauty, lifestyle, dan sportswear juga aktif melakukan ekspansi sepanjang tahun. Hingga 2026, setidaknya tiga pusat ritel baru dijadwalkan masuk pasar, terutama di koridor Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.
Frank Tumewu menilai transformasi ritel Jakarta kini bergerak menuju era experience-led retail. Konsep yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, ruang sosial, serta kurasi tenant relevan terbukti lebih resilien. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan omnichannel, karena pusat perbelanjaan fisik sejatinya merupakan bagian dari ekosistem ritel digital yang saling terintegrasi.
“Ke depan, tantangan ritel bukan sekadar menghadirkan ruang belanja, tetapi menciptakan destinasi yang mampu membangun keterikatan emosional konsumen—sebuah ruang di mana aktivitas, komunitas, dan pengalaman menjadi alasan utama untuk datang dan kembali,” tutupnya.
















