
Land Hoarding Versus Fase Pembangunan: Menguji Presisi PP 48/2025
Propertynbank.com – Nun di watas kabupaten terluas dilatari kaki gunung bernama buah, hamparan tanah terlihat menyelimuti muka bumi. Di dalamnya ada pelukan kekuasaan uang, yang

Propertynbank.com – Nun di watas kabupaten terluas dilatari kaki gunung bernama buah, hamparan tanah terlihat menyelimuti muka bumi. Di dalamnya ada pelukan kekuasaan uang, yang

Propertynbank.com – Hari itu masih pagi, di tepi kawasan kabupaten terluas, embun masih sanggup menggantung di ujung ilalang. Nun di kejauhan, papan proyek berdiri seperti

Propertynbank.com – Tiba-tiba menggelegar. Gemuruh suara yang lama tidak terdengar dalam politik hukum agraria Indonesia. Itu suara negara yang benar-benar tegas. Bukan lagi bahasa himbauan.

Propertynbank.com – The HUD Institute peduli menyukseskan program tiga juta rumah untuk rakyat. Itu bukan sekadar soal retorika, utak-atik harga, melainkan ijtihat re-skema cara rasional

Propertynbank.com – Beberapa waktu ini terlihat di media berbagai pemberitaan mengenai aturan tentang tanah telantar yang memberi kesan bahwa ini aturan baru yang sebelumnya belum

Propertynbank.com – Ketika kata-kata kehilangan rasa, gurindam menjadi garam makna. Ia menenun nasihat dalam irama sederhana: tajam, singkat, tetapi mengikat jiwa. Begitulah cara paling jernih

Propertynbank.com – Ada pemandangan yang jarang terlihat dalam membenahi kebijakan perumahan: seorang pejabat berdiri lama di pekarangan rumah susun, tidak langsung banyak bicara—melainkan banyak mendengar.

Propertynbank.com – Kalimat judul itu diucapkan singkat dan padat, namun mengguncang kerangka berpikir kebijakan publik yang selama ini terasa nyaman: “Perumahan rakyat tidak boleh skala

Propertynbank.com – Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan dentuman senjata. Ia justru sering lahir dari narasi, opini, dan informasi yang perlahan membentuk cara berpikir

Propertynbank.com – Konstitusi diperlakukan seperti buku menu restoran di Moskwa diceritakan dalam kisah fiksi-yuridis sang pengembara. Seorang musafir yang lapar menunjuk menu dan berkata, “Saya