Saturday , September 19 2020
Home / Properti / Broker Properti Bukan Profesi Pelarian

Broker Properti Bukan Profesi Pelarian

Business-Property-InsuranceProperti – Industri broker saat ini berkembang sangat pesat. Namun posisi broker secara hukum dirasa masih sangat lemah. Sehingga profesi ini sering dijadikan profesi pelarian. Di luar negeri, khususnya Amerika Serikat posisi broker sudah diatur dalam aturan perundang-undangan yang jelas. Sedangkan di Asia Tenggara seperti Singapura, Indonesia dan Thailand, industri ini masih terbilang baru.

Seiring dengan kian pesatnya pertumbuhan bisnis properti, keberadaan broker menjadi kian dicari. Bahkan broker telah memiliki asosiasi, yakni Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) yang dibentuk sejak tahun 1992. Asosiasi ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para agen properti supaya bisa menjalankan bisnis secara terarah.

Di Jabodetabek sendiri tercatat ada sekitar 2000 jumlah broker sampai tahun 2014 lalu. Namun , hanya 350 agen saja yang bergabung ke dalam asosiasi. AREBI DKI Jakarta mencatatkan nilai kapitalisasi sebesar 100 Triliun pada tahun 2014. Artinya, bisnis broker saat ini sangat menjanjikan.

“Saat ini industri broker properti telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru,” ungkap Lukas Bong, Ketua AREBI DPD DKI Jakarta. Meski masih dianggap sebagai profesi pelarian, namun AREBI telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Salah satunya adalah melakukan basic training bagi para marketing. Basic training ini tidak hanya berlaku untuk para broker yang bergabung di AREBI saja, tetapi yang tidak terdaftar pun boleh mengikuti pelatihan ini.

Selain itu, AREBI sendiri juga telah bekerja sama dengan kantor lawyers. Setiap pembelian properti pasti akan selalu berurusan dengan notaris. Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga hukum adalah suatu keharusan, karena akan berimbas baik bagi industri broker. Sehingga , permasalahan atau kendala yang kerap terjadi baik masalah akta tanah atau pun pembagian komisi dapat ditangani dengan jelas.

Upaya lain yang sedang dilakukan AREBI saat ini adalah mengenai sertifikasi. Sebagai asosiasi, AREBI ingin profesi sebagai marketing broker bukanlah profesi sampingan semata. Tirta Setiawan, Chairman PRO/MAX sekaligus mantan Ketua Umum AREBI mengaku sangat mencintai profesinya ini. Ia mengawali profesi ini jauh sebelum bisnis ini booming. “Saya ingin profesi ini menjadi terhormat. Saya tidak mau bisnis agen properti ini hancur. Karenanya, haruslah profesional dengan adanya sertifikasi,”ungkap Tirta.

Check Also

pekerja konstruksi

Jadi Penggerak Ekonomi Nasional, Sektor Properti Butuh Perhatian Khusus

PROPERTI – Pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh negara, termasuk di Indonesia telah membuat sektor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 173

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
cover majalah
close-link