
Propertynbank : PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) menilai kondisi makroekonomi Indonesia tetap solid menuju tahun 2026, meski dinamika global masih dipengaruhi transisi kebijakan moneter Amerika Serikat, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan pertumbuhan ekonomi di kawasan regional.
Hal tersebut disampaikan Ekonom Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, dalam pemaparan bertajuk “Kinerja Makroekonomi Indonesia: Arah dan Prospek 2026”. Dimana Pasar keuangan global diperkirakan memasuki fase pelonggaran, seiring antisipasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin hingga akhir 2025.
Hosianna, mengungkapkan bahwa pasar global menantikan penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada akhir 2025. Ia menyebut penghentian kebijakan Quantitative Tightening (QT) pada 1 Desember 2025 akan menambah likuiditas dan menguntungkan pasar negara berkembang.
“Ini menjadi momentum positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, selama inflasi domestik berada dalam rentang target,” ujar Hosianna.
Dampaknya terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, akan semakin positif apabila inflasi tetap berada pada rentang target Bank Indonesia (BI).
BI mempertahankan suku bunga 4,75% sejak Oktober 2025, setelah pelonggaran total 125 bps sepanjang tahun. Kondisi likuiditas longgar tercermin pada turunnya INDONIA ke level 4,00% dan imbal hasil SRBI ke 4,85%.
Namun, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 bps, dari 4,81% di awal 2025 menjadi 4,25% pada Oktober 2025, disebabkan oleh tingginya pengenaan suku bunga khusus yang ditawarkan kepada deposan besar, hingga 27% dari total simpanan per Oktober 2025. Pada saat yang sama, suku bunga kredit hanya turun 20 bps, dari 9,20% di awal tahun menjadi 9,00%, menegaskan lambatnya transmisi pelonggaran moneter ke biaya kredit.
Baca Juga : Danamon Hadirkan Inspirasi Metode Kerja Inovatif
Sedangkan, arus dana asing (foreign flow) menunjukkan tren perbaikan, tercermin dari pergerakan harga saham domestik (IHSG) yang kembali menguat. Sementara itu, perkembangan kurva imbal hasil obligasi Indonesia berada pada kondisi steepening seiring dengan reli yang lebih kuat di obligasi tenor jangka pendek (<5 tahun).
Hingga awal November 2025, rupiah terus mengalami pelemahan terhadap USD dan mata uang lainnya. Adapun, per 6 November, performanya terhadap USD menurun di angka 3,66%. Pergerakan USD/IDR diproyeksikan bergerak di kisaran 16.500–16.700.
Sektor Potensial
Danamon menilai beberapa sektor domestik tetap memiliki prospek positif berkat dorongan pertumbuhan e-commerce serta pemulihan pariwisata. Sektor-sektor tersebut meliputi, Transportasi, F&B, Teknologi informasi dan komunikasi (ICT), serta Business services
Pelonggaran kebijakan BI serta insentif Kredit Likuiditas Makroprudensial (KLM) berpotensi mendorong kredit modal kerja, terutama di sektor logistik, pariwisata, dan properti—yang bisa pulih jika suku bunga KPR turun serta penyerapan stok meningkat.
Sementara itu, Kementerian Keuangan telah menggulirkan berbagai paket stimulus yang terbagi dalam empat kuartal, dengan porsi terbesar pada 4Q25 sebesar Rp 54,6 triliun. Stimulus mencakup, Bantuan pangan, Subsidi PPh 21, Keringanan iuran BPJS-TK, Perpanjangan tarif pajak UMKM 0,5% dan Pembebasan PPN pembelian rumah.
Hasilnya Indeks Keyakinan Konsumen (CCI) naik ke 121,2 pada Oktober 2025, ditopang oleh BLT-KS senilai Rp 30 triliun serta tingkat pengangguran yang rendah di 4,85%.
Baca Juga : Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba 21%
Di sektor otomotif, Danamon memperkirakan penjualan motor dapat mencapai 6,5 juta unit pada 2025, sedangkan mobil diproyeksikan di level 785 ribu unit, didorong penjualan EV impor sebelum insentif berakhir 31 Desember 2025. Untuk penjualan sepeda motor tumbuh 8,4 persen (yoy) menjadi 590.362 unit pada Oktober 2025. Penjualan mobil turun 4,4 persen (yoy) namun naik secara bulanan menjadi 74.019 unit.
Meski negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina mencatat pertumbuhan lebih cepat, Danamon menilai Indonesia tetap stabil berkat konsumsi domestik yang kuat dan suku bunga riil positif yang menarik aliran modal.
“Risiko global tetap perlu diwaspadai, namun Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih resilien,” ujar Hosianna.
Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, Danamon menegaskan komitmennya untuk mendukung nasabah melalui solusi finansial yang relevan.
“Danamon akan terus menyediakan layanan keuangan yang antisipatif, membantu masyarakat dan pelaku usaha merencanakan langkah keuangan secara sehat dan berkelanjutan di tahun 2026,” pungkasnya.
















