Thursday , 29 June 2017
Home » Bahan Bangunan » Penjualan SCG Naik 15% Pada Kuartal II 2016

Penjualan SCG Naik 15% Pada Kuartal II 2016

Kinerja SCG pada Kuartal II dan Semester Pertama 2016 Meningkat

Kinerja SCG pada Kuartal II dan Semester Pertama 2016 Meningkat

BAHAN BANGUNAN-Kinerja SCG pada Kuartal II dan Semester Pertama 2016 menunjukkan peningkatan keuntungan yang stabil berkat kinerja bisnis kimia yang lebih baik. Masa depan yang cerah bagi pasar ASEAN, dengan potensi pertumbuhan yang tinggi untuk industri bahan bangunan dan kemasan, merupakan peluang yang besar bagi SCG.

Roongrote Rangsiyopash, Presiden dan CEO SCG, memaparkan kinerja perusahaan tidak teraudit untuk Kuartal II 2016 yang mencatatkan pendapatan penjualan sebesar Rp 41,159 Miliar (US$ 3,086 Juta), turun 4% q-o-q. Keuntungan pada periode ini mencapai Rp 6,059 Miliar (US$ 454 Juta), naik 15% y-o-y, berkat pendapatan yang lebih baik dari bisnis kemasan dan bahan kimia.

Keuntungan SCG pada semester pertama 2016 tercatat sebesar Rp 11,189 Miliar (US$ 832 Juta), tumbuh 18% y-o-y, terutama didorong oleh bisnis kimia. Sementara pendapatan penjualan turun 2% y-o-y menjadi Rp 82,972 Miliar (US$ 6,170 Juta), akibat turunnya harga kimia mengikuti turunnya harga nafta/minyak, juga, persaingan yang ketat dan lemahnya bisnis Semen-Bahan Bangunan di pasar domestik. Penghasilan dari ekspor untuk semester pertama 2016 berkontribusi sebesar 27% dari total penghasilan penjualan SCG, turun 9% y-o-y menjadi Rp 22,533 Miliar (US$ 1,675 Juta).

Perusahaan telah menginvestasikan lebih dari Rp 899 Miliar (US$ 67 Juta) pada penelitian dan pengembangan (Litbang) pada periode semester pertama 2016. Investasi ini merupakan 1,1% dari total pendapatan penjualan. Untuk semester kedua 2016, SCG akan terus berinvestasi pada litbang untuk melakukan inovasi produk dan layanan yang menjawab gaya hidup konsumen di seluruh ASEAN.

“Kami melihat masa depan yang cerah bagi pasar-pasar di seluruh kawasan, dengan laju pertumbuhan yang stabil. Seperti Vietnam yang telah menjadi basis produksi utama dunia, dimana kebutuhan bahan bangunan dan kemasan telah meningkat, ditunjang dengan ledakan industri konstruksi, melalui beberapa proyek infrastruktur, residensial, dan industrial. Kamboja juga terus menunjukan pertumbuhan yang stabil, sementara Indonesia juga mulai memperlihatkan perbaikan ekonomi, dengan pembangunan beberapa mega proyek pemerintah. Di saat yang sama, perdagangan di perbatasan Thailand dan beberapa negara tertangga juga berjalan dengan baik,” ujar Roongrote Rangsiyopash dalam siaran persnya.

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*