
Propertynbank.com – PT Sarana Pactindo atau PAC menargetkan penambahan hingga 25 klien baru yang menggunakan AI, atau Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dari industri keuangan dan perbankan. Optimisme ini tumbuh karena kebutuhan terhadap AI yang terus meningkat, khususnya di industri keuangan.
Presiden Direktur PT Sarana Pactindo Sutjahyo Budiman mengatakan, saat ini sudah ada empat perusahaan perbankan dan asuransi yang mempercayakan mengelola AI nya kepada PAC. Ke depan, pengelolaan kegiatan di industri keuangan dan perbankan, sangat membutuhkan dukungan dari AI, atau kecerdasan buatan.
“Kalau dilihat sejak tahun 2017 lalu, belakangan AI sudah menjadi kebutuhan dalam industri finansial. Indonesia tidak boleh kalah dari negara-negara lain. Sehingga, tidak perlu takut dan kuatir masuk ke AI, dan pada umumnya inilah masalah yang masih ada yaitu tidak tahu gimana cara memulainya. Kami ingun mempermudah hal itu, agar pelaku industri finansial bisa cepat masuk, sehingga cepat dapat benefit,” ujar Sutjahyo di sela-sela diskusi Digital Shift into AI: Vision to Value, The App, Security, and AI Conference 2025 di Jakarta, Rabu (16/7).
Baca Juga : Gandeng PT Sarana Pactindo, BytePlus Hadirkan Teknologi Voice AI
Menurut dia, AI sudah menjadi solusi dalam segala bentuk aktifitas. Dari sisi harga juga masih terjangkau, asalkan didukung oleh sumber daya manusia yang mampu menjalankannya. PAC, kata dia, juga siap memberikan training atau pelatihan bagi perusahaan perbankan, baik nasional maupun bank daerah dan perusahaan keuangan lainnya.
Hingga saat ini, bank-bank besar sudah menggunakan AI untuk mendukung operasionalnya. Dalam hitungan Sutjahyo, ada lima bank besar yang sudah masuk ke AI. Pada umumnya, penggunaan AI dalam industri keuangan dalam melakukan transaksi online digital dan pekerjaan lainnya yang jika dilakukan oleh manusia biasa akan memakan waktu yang lama.
“Kalau dilakukan manusia biasanya kurang teliti, seperti processing dokumen, processing klaim sehingga dengan AI hasilnya jadi lebih banyak, lebih cepat, dan lebih presisi. Masih banyak perusahaan yang ragu-ragu untuk masuk ke AI. Padahal sebetulnya ini merupakan solusi, benefit juga sangat banyak,” tegas Sutjahyo.
Artificial Intelligence Tingkatkan Efisiensi
Lebih lanjut dijelaskannya, Artificial Intelligence dapat meningkatkan efisiensi deteksi penipuan dengan mengurangi false alert dan meningkatkan akurasi hingga 85 hingga 90%. Sementara itu, dengan sistem manual, banyak transaksi berisiko terlewatkan, mengancam integritas sistem keuangan. Pemerintah juga sudah mulai serius karena Indonesia sudah terlalu jauh tertinggal dibanding Cina dan Amerika yang sudah lebih dulu memanfaatkan AI.
Baca Juga : FMJP2R Desak Pemprov DKI Jakarta Selesaikan Polemik di Rusunami Gading Nias Residence
Oleh karena itu, Sutjahyo berharap pemerintah terus memberikan dukungan lebih kepada perusahaan kelas menengah yang merasa kesulitan untuk memulai adopsi AI. Masalah biaya atau investasi yang selama ini dikuatirkan, mungkin bisa dibantu pemerintah, disamping memberikan pelatihan.
“Kita semua berharap agar penggunaan AI di sektor keuangan dan perbankan dapat terus berkembang dan para pelaku usaha tidak lagi ragu untuk melangkah menggunakan AI sebagai pendukung utama dalam kegiatan bisnis,” pungkas Sutjahyo.
















