Property & Bank

Semen Ramah Lingkungan Dukung Pembangunan Konstruksi Berkelanjutan 

semen ramah lingkungan
Utamakan semen ramah lingkungan

Propertynbank.com – Sebagai pembina jasa konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong prinsip-prinsip konstruksi berkelanjutan yang memperhatikan lingkungan.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Rachman Arief Dienaputra mengatakan, salah satu upaya untuk mengimplementasikan prinsip konstruksi berkelanjutan adalah dengan penggunaan material tepat guna yang ramah lingkungan.

“Salah satunya adalah material semen ramah lingkungan yang lebih dikenal dengan nama Semen Non Ordinary Portland Cement (Non OPC),” kata Arief dalam webinar Optimalisasi Penggunaan Semen Ramah Lingkungan di Kementerian PUPR dalam rangka Mewujudkan Pembangunan Konstruksi Berkelanjutan, beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Perluas Pasar Ekspor, Tempe Azaki Resmikan Pabrik Ramah Lingkungan

Arief juga mengatakan bahwa semen merupakan material baku yang sangat penting dalam pekerjaan konstruksi. Penentuan jenis semen akan berpengaruh terhadap proses pelaksanaan dan hasil konstruksi yang dihasilkan.

“Di Kementerian PUPR telah terdapat beberapa regulasi yang menjelaskan tentang tata cara maupun instruksi penggunaan Semen Non OPC dalam pekerjaan Konstruksi, antara lain melalui Surat Edaran Menteri PUPR No. 07/2016 tentang Pedoman Tata Cara Penentuan Campuran Beton Normal dengan Semen OPC, PPC dan PCC, yang merupakan panduan penggunaan tipe-tipe semen Non OPC sesuai jenis bangunan konstruksi,” kata Rachman Arief.

Selain Surat Edaran, Arief menyebutkan juga telah diterbitkan Instruksi Menteri PUPR No. 04/IN/M/2020 tentang Penggunaan Semen Non OPC Pada Pekerjaan Konstruksi di Kementerian PUPR, yang merupakan upaya untuk mendorong penggunaan semen Non OPC dalam pekerjaan konstruksi di Kementerian PUPR sebagai upaya mewujudkan pembangunan konstruksi berkelanjutan.

“Semen Non OPC memiliki beberapa kelebihan, baik dari sisi teknis, ekonomi maupun lingkungan. Pemanfaatan semen Non OPC dilakukan dengan menyesuaikan jenis/spesifikasinya dengan jenis/peruntukan pekerjaan konstruksinya, apakah untuk konstruksi jalan, bendungan atau konstruksi bangunan gedung,” jelas Rachman Arief.

Dikatakan Rachman Arief, kegiatan webinar hari ini merupakan upaya awal untuk menyampaikan informasi tentang tipe dan spesifikasi semen Non OPC, kelebihan serta pasokan dan ketersediaan semen Non OPC. “Selanjutnya, Dirjen Bina Konstruksi akan menginisiasi diskusi lebih lanjut dengan masing-masing Unit Organisasi Kementerian PUPR untuk mengoptimalkan penggunaan semen Non OPC,” kata Rachman Arief.

Baca Juga : Dukung Pembangunan Berkelanjutan, Sinar Mas Land Kembangkan Produk Ramah Lingkungan

Pemerintah turut serta dalam menurunkan efek gas rumah kaca pada tahun 2016 sudah melakukan penurunan pada gas efek rumah kaca sekitar 29% dan dibantu dengan bantuan luar sekitar 41%, lalu tahun 2022 diperkuat dengan menggunakan enhance tahun 2022 dan berhasil menurunkan 31,89% dan bantuan dari luar sekitar 43,2%.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, ASI beserta stakeholder terkait siap mensukseskan Optimalisasi Penggunaan Semeh Ramah Lingkungan di Kementrian PUPR dalam rangka Pembangunan Konstruksi Berkelanjutan.

“Pada tahun 2010 hingga 2022, intensitas karbon industri semen Indonesia berkurang dari 725 kg CO2 /ton cementitious menjadi 631,70 kg CO2/ton cementitious, mencapai pengurangan emisi absolut sebesar 6,54 Juta ton CO2 atau mengalami penurunan sebesar 12,9%. Industri semen memainkan peran kritis dalam mengurangi emisi CO2 dan komitmen penerapan inisiatif strategis sangat penting untuk mencapai emisi karbon net-zero,” katanya

Pengurangan emisi CO2 menjadi penting karena dampaknya terhadap perubahan iklim global. CO2 adalah salah satu gas rumah kaca utama yang bertanggung jawab atas pemanasan global. Lilik juga mengatakan terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan guna mengurangi CO2.

“Ada beberapa hal inisiatif yang dilakukan  industry semen dalam mengurangi co2 yaitu dengan energi efesiensi sehingga pemakaian energi termal maupun listrik itu menjadi lebih efisien, bagaimana kita mulai swich dari penggunaan batu bara, air solar ke bahan bakar alternatif seperti bio masa, lintah industri, sampah pengelolaan dan yang terakhir adalah menciptakan inovasi dari teknologi terbaru,” ungkapnya.

Baca Juga : Schneider Electric Indonesia Bidik Pasar Bangunan Masa Depan Ramah Lingkungan

Staf khusus Menteri PUPR Bidang Manajemen Sumber Daya Air dan Pendiri Indonesia Water Institute, Ir. Firdaus Ali, M. SC.,Ph. D. mengatakan berupaya membantu bersama untuk kemudian bisa menekan laju pertambahan di gas rumah kaca yang menyebabkan banyak hal sehingga menjadi persoalan hingga saat ini.

Penggunaan material ramah lingkungan menjadi salah satu langkah penting untuk konstuksi berkelanjutan.

“Kami telah melakukan upaya untuk memitigasi dampak konstruksi terhadap lingkungan dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur lingkungan dan menyediakan solusi konstruksi ramah lingkungan dan semen ramah lingkungan ini menjadi fokus utama kami saat ini,” katanya.

Industri semen saat ini dihadapkan pada tantangan lingkungan, ketersediaan bahan baku dan kualitas produk. Dalam menghadapi tantangan tersebut maka diperlukan solusi baru yang membuat penggunaan semen yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

“Pertama bisa kita manfaatkan dengan menggunakan bahan alternatif seperti abu terbang, limbah industri dan abu sekam dapat dicampurkan dengan semen untuk mengurangi bahan baku yang di impor, lalu bisa menggunakan teknologi hijau untuk mengurangi limbah dan energi fosil dan yang terakhir adalah desain konstruksi yang efisien,” ungkapnya.

Dampak Positif Semen Ramah Lingkungan

Dampak dari penggunaan semen ramah lingkungan ini tentu dapat memberikan sisi positif karena dapat meningkatkan efisiensi energi, meningkatkan kualitas konstruksi dan meningkatkan kualitas udara.

Firdaus berharap untuk kedepannya solusi optimalisasi penggunaan semen ramah lingkungan dapat membantu mengatasi tantangan dalam industri konstruksi. Selain itu peningkatan dan kesadaran masyarakat dibutuhkan untuk mendorong solusi baru ini yang akan membawa masa depan yang lebih ramah lingkungan.

“Berharap arah kedepannya dapat menjadikan sebuah konstruksi menjadi ramah lingkungan, arsitektur berkelanjutan dan energi terbarukan,” tutupnya. (Nabilla Chika Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *