Property & Bank

Tertinggi di Jawa, Harga Hunian di Semarang Naik 3,3 %

semarang
Salah satu perumahan di Semarang (Potala@Paramount Village)

Propertynbank.com – Berdasarkan data Flash Report Rumah123.com November 2023 menunjukkan tren harga rumah di Indonesia mengalami peningkatan tahunan sebesar 2,5 persen pada bulan Oktober 2023 dibandingkan sejak Oktober 2022. Menjelang akhir tahun, Makassar juga menjadi kota yang mengalami kenaikan harga tertinggi sebesar 10,5 persen, lalu disusul Denpasar (9,2%) dan Medan (8,4%).

Di Jabodetabek, Bekasi kembali menjadi harga tahunan tertinggi untuk ketiga kalinya dengan kenaikan sebesar 4,8 persen. Selanjutnya ada Tangerang (3,4%), Bogor (3,3%), Depok (3,1%) dan Jakarta (1,9%). Sementara di Jawa, Semarang mencatatkan kenaikan harga tahunan sebesar 3,3 persen, disusul dua kota lainnya, Surakarta (3%) dan Surabaya (2,5%).

Country Manager 99 Group Indonesia, Maria Herawati Manik mengatakan jenis properti yang paling diminati di Semarang hingga Oktober 2023 adalah rumah tapak, mencapai 64,4 persen.

Baca Juga : Paradise Indonesia dan Bina Nusantara Bangun Pusat Belanja Ikonik mall 23Semarang

“Kami juga mencatat bahwa permintaan terhadap tanah cukup signifikan, sekitar 14,1 persen, dan ruko sebesar 8,1 persen. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang dikenal sebagai Port of Java dan terletak di utara Pulau Jawa, Semarang menjadi pusat vital untuk kegiatan bisnis dan perdagangan. Daya tarik pariwisata dan perkembangan infrastruktur juga menjadi faktor yang membuat orang tertarik untuk menginvestasikan aset mereka di kota ini.” katanya dalam keterangan resmi.

Peminat Properti Di Semarang

Sepanjang tahun 2023, pertumbuhan permintaan rumah sewa di Semarang secara year-on- year sebesar 39,9 persen dan rumah jual mencapai 92,1 persen. Mayoritas peminat properti di Semarang merupakan warga Semarang itu sendiri yang mencapai 47,1 persen. Namun, sejumlah peminat dari kota lainnya juga terbilang signifikan, seperti Jakarta (16,2%), Surabaya (8,3%), Kuta (4,5%) dan Yogyakarta (2,7%). Dari segi usia, pembeli properti potensial di Semarang umumnya kalangan usia 35-44 tahun (30,5%) dan generasi lebih muda di rentang usia 18-24 tahun (27%) serta 25-34 tahun (22,9%).

Ada lima area di Semarang dengan popularitas tertinggi, yaitu Tembalang (10,06%), Banyumanik (8,92%), Pedurungan (5,99%), Semarang Barat (5,47%) dan Gunung Pati (5,25%). Mayoritas pengembangan residensial di Semarang berada di area timur dan selatan, pada 4 kecamatan terpopuler. Selain terdapat banyak pengembangan residensial dan area pemukiman yang cukup padat, kawasan ini juga menjadi lokasi Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang, sehingga pengembangan properti di sekitar area tersebut dapat menargetkan pasar mahasiswa yang berasal dari luar Semarang.

Baca Juga : Laik Operasi, Jalan Tol Semarang – Demak Seksi 2 Siap Beroperasi

Sedangkan Semarang Barat, yang terletak di sebelah utara Semarang juga terbilang strategis lantaran merupakan lokasi Bandara Udara Ahmad Yani. Area ini juga dekat dari kawasan wisata dan area kota lama Semarang, dan menjadikan area ini cukup padat serta terjangkau dari pusat kota.

Ungguli Inflasi Tahunan

Menurut data dari Flash Report November 2023  mencatat tiga kota mengalami selisih pertumbuhan harga tertinggi di atas inflasi tahunan: Makassar (7,5%), Denpasar (6,7%) dan Medan (5,9%). Menyusul Bekasi (2,1%), Tangerang (1,1%), Depok dan Semarang (0,7%), dan Bogor (0,3%).

“Ini menandakan indikasi positif lantaran peluang nilai investasi properti di kota-kota tersebut dapat meningkat seiring waktu dan menjadi peluang yang menarik bagi masyarakat maupun investor yang ingin mendiversifikasi portofolio mereka atau mencari investasi jangka panjang yang stabil,” kata Maria.

Dari segi popularitas, Denpasar mencatatkan pertumbuhan popularitas pencarian tertinggi dibandingkan Makassar dan Medan, bahkan dibandingkan Jakarta Utara dan Tangerang Selatan. Sejak Kuartal IV 2022, terdapat lonjakan permintaan dari kalangan WNA di sejumlah wilayah di Bali, seperti Denpasar dan Badung, seiring diterbitkannya Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1241/SK-HK.02/IX/2022 Tahun 2022 tentang Perolehan dan Harga Rumah Tempat Tinggal/Hunian Untuk Orang Asing pada September 2022 serta Second Home Visa pada akhir Desember 2022.

Baca Juga : Tangani Banjir Semarang, Menteri PUPR Instruksikan Tambah Kapasitas Pompa dan Pintu Air

Alhasil, di Kuartal I 2023, kebijakan ini meningkatkan minat properti yang sangat signifikan dari kalangan WNA terhadap wilayah Badung dengan pertumbuhan mencapai 91,3 persen dan Denpasar sebesar 55,8 persen.

“Di awal September 2023, pemerintah juga mengesahkan kebijakan Golden Visa melalui Permenkumham Nomor 22 Tahun 2023 tentang Visa dan Izin Tinggal untuk menarik Good Quality Travelers yang berkualitas dan bermanfaat bagi perekonomian Indonesia. Harapannya, regulasi seperti ini dalam jangka panjang tak hanya berdampak pada potensi peningkatan minat properti kalangan WNA di kawasan Bali, tetapi juga terhadap kawasan kota-kota lain di Indonesia,” ungkapnya. (Nabilla Chika Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini