Property & Bank

Mal Premium Penopang Utama Hunian Pusat Perbelanjaan

BSI, pusat perbelanjaan
Stand BSI di salah satu pusat perbelanjaan

Propertynbank.com – Memasuki pertengahan tahun 2025, sektor ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia terus menunjukkan langkah stabil dalam mempertahankan pertumbuhan. Didukung kolaborasi strategis antara pengelola pusat belanja dan peritel, upaya untuk meningkatkan daya tarik pengunjung tetap konsisten dijalankan.

Dari promo payday yang agresif hingga gelaran festival kuliner dan kegiatan bertema di berbagai mal, strategi ini berhasil menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih menyenangkan dan meningkatkan foot traffic. Kolaborasi tersebut tidak hanya menguntungkan penyewa, tetapi juga memperkuat posisi pusat perbelanjaan sebagai pusat gaya hidup masyarakat urban.

“Pengalaman belanja saat ini tidak lagi soal produk semata, tetapi soal suasana dan nilai tambah yang ditawarkan,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers.

Meski sektor makanan dan minuman (food & beverage/F&B) terus menjadi motor utama trafik kunjungan, pengelola mal tetap mengedepankan prinsip diversifikasi penyewa. Ketergantungan pada F&B yang berlebihan dinilai bisa berdampak negatif terhadap daya tahan jangka panjang pusat belanja.

Baca Juga : Pusat Belanja Dengan Konsep Gaya Hidup dan Hiburan Paling Diminati

Oleh karena itu, kehadiran penyewa non-F&B yang mampu menarik massa, seperti pusat kebugaran, hiburan keluarga, dan ritel elektronik, terus diperkuat guna menjaga komposisi tenant yang seimbang dan mendukung okupansi secara berkelanjutan.

Pusat Perbelanjaan Kelas Atas Unggul

Pada kuartal kedua 2025, data menunjukkan bahwa tingkat hunian pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta mencapai 73,4%, Jabodetabek berada di 68,3%. Namun demikian, terdapat perbedaan mencolok antara mal kelas atas dan mal kelas bawah. Pusat perbelanjaan kelas premium berhasil mempertahankan tingkat hunian di atas 80%, sementara sebagian besar mal kelas bawah masih kesulitan untuk keluar dari zona hunian 50–60%.

“Mal kelas atas menawarkan lebih dari sekadar belanja—mereka menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman lengkap, dari kuliner, hiburan, hingga kenyamanan fasilitas,” lanjut Ferry.

Baca Juga : Aktifitas Pusat Belanja Terus Meningkat, Okupansi Naik Hingga 88%

Kondisi ini menjadikan mal-mal premium lebih menarik bagi merek global maupun lokal untuk berekspansi, sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah kompetisi pasar.

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, banyak pengelola pusat perbelanjaan mulai menerapkan kurasi tenant yang lebih selektif. Fokusnya bukan hanya mengisi ruang kosong, tetapi memastikan bahwa setiap penyewa memberikan nilai tambah dan memperkaya pengalaman pengunjung.

Salah satu tren yang mencolok di tahun ini adalah meningkatnya ketertarikan dari merek-merek asal Tiongkok, terutama di sektor fashion, kecantikan, dan gaya hidup. Kehadiran merek baru ini memperluas pilihan bagi konsumen sekaligus membuka peluang diversifikasi yang lebih luas untuk penyewa.

Pasokan Terbatas

Ke depan, pasar pusat perbelanjaan diperkirakan tetap berada dalam jalur pertumbuhan. Tidak adanya tambahan signifikan terhadap pasokan mal baru hingga akhir 2025 menciptakan ruang bagi pusat perbelanjaan yang ada untuk memperkuat performa huniannya.

Baca Juga : Paradise Indonesia dan Bina Nusantara Bangun Pusat Belanja Ikonik mall 23Semarang

Dengan asumsi tren saat ini berlanjut, tingkat hunian pusat perbelanjaan di kawasan utama diproyeksikan meningkat sekitar 3% hingga penutupan tahun ini. Kombinasi dari pertumbuhan sektor F&B, masuknya merek asing baru, serta strategi penyewa yang cermat akan menjadi penopang utama optimisme pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan