
Propertynbank.com – PT Intiland Development Tbk (Intiland) memperoleh dukungan penuh dari para pemegang saham dalam pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan tahun buku 2025 yang digelar di Intiland Tower, Jakarta, Rabu (10/6). Seluruh agenda yang diajukan manajemen mendapatkan persetujuan, menegaskan kepercayaan investor terhadap arah bisnis dan strategi yang dijalankan perusahaan.
RUPS Tahunan tersebut dihadiri para pemegang saham, jajaran Dewan Komisaris, dan Direksi Perseroan, serta diselenggarakan secara hybrid melalui fasilitas eASY.KSEI. Persetujuan atas seluruh agenda menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis Intiland di tengah tantangan industri properti yang masih berlangsung.
Sekretaris Perusahaan Intiland, Theresia Rustandi, menjelaskan bahwa lima agenda utama yang dibahas dalam rapat berhasil memperoleh persetujuan pemegang saham. Agenda tersebut meliputi persetujuan Laporan Tahunan dan pengesahan Laporan Keuangan tahun buku 2025, pemberian wewenang kepada Dewan Komisaris untuk menunjuk Akuntan Publik Independen, penetapan penggunaan laba bersih, penetapan remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi, serta persetujuan atas hal-hal lain yang berkaitan dengan agenda rapat.
Menurut Theresia, dukungan pemegang saham mencerminkan kepercayaan terhadap tata kelola perusahaan yang dijalankan secara konsisten serta komitmen manajemen dalam menjaga keberlanjutan usaha.
“Perseroan selalu memastikan setiap kebijakan dan langkah strategis dijalankan secara hati-hati, terukur, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Theresia.
Dalam agenda penggunaan laba bersih, pemegang saham menyetujui usulan perusahaan untuk tidak membagikan dividen atas laba tahun buku 2025. Intiland membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp64,26 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp2 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan wajib, sementara sisanya sebesar Rp62,26 miliar dicatat sebagai saldo laba untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Selain itu, RUPS juga memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menunjuk Akuntan Publik Independen yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna melakukan audit laporan keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2026.
Strategi Deleveraging Jadi Prioritas
Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono, mengungkapkan bahwa fokus utama perusahaan sepanjang 2026 masih diarahkan pada strategi deleveraging atau pengurangan utang. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus menjaga kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
Sepanjang 2025, Intiland berhasil menurunkan total kewajiban sebesar 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari sebelumnya Rp4,11 triliun pada 2024. Penurunan tersebut dicapai melalui sejumlah langkah strategis, termasuk restrukturisasi utang, percepatan pelunasan kewajiban, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.
“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi Perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” kata Archied.
Menurutnya, kondisi pasar yang masih dinamis membuat perusahaan tetap menerapkan pendekatan konservatif dalam menjalankan ekspansi. Intiland akan lebih mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan sambil mempersiapkan pengembangan baru secara selektif.
Kinerja Kuartal I dan Target 2026
Pada kuartal pertama 2026, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut berasal dari segmen pengembangan sebesar Rp387,1 miliar dan pendapatan berulang (recurring income) sebesar Rp232,6 miliar.
Kontribusi terbesar berasal dari recurring income yang mencapai 37,5 persen dari total pendapatan atau sebesar Rp232,6 miliar. Sementara itu, segmen kawasan industri menyumbang Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, diikuti segmen perumahan sebesar Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, serta high-rise residential sebesar Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.
Melihat prospek pasar properti tahun ini, Intiland menilai peluang pertumbuhan masih terbuka, khususnya pada sektor perumahan dan kawasan industri yang memiliki kebutuhan riil dan daya serap pasar yang relatif kuat.
Untuk itu, Perseroan menargetkan marketing sales sebesar Rp1,95 triliun pada 2026, meningkat dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp1,61 triliun.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, Intiland tengah menyiapkan sejumlah proyek baru, termasuk rencana pengembangan kawasan industri di Jawa Timur dan peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester kedua tahun 2026.
“Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental Perseroan tetap sehat,” tutup Archied.















