
Propertynbank.com – Industri pusat data (data center) di Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan, seiring meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan data digital serta dukungan iklim investasi yang semakin membaik. Perpaduan antara regulasi yang tepat dan insentif menarik dinilai mampu mempercepat pembangunan infrastruktur data center nasional yang mumpuni.
Agar ekosistem data center nasional berkembang optimal, kolaborasi tiga elemen utama sangat krusial, pemerintah sebagai penyusun kebijakan, pengembang kawasan industri, dan para pelaku penyedia layanan pusat data.
Pasar pusat data dan komputasi awan di kawasan ASEAN tengah mengalami lonjakan pertumbuhan. Proyeksi nilainya dapat mencapai US$600 miliar pada 2030, bahkan bisa menembus US$1 triliun, jika didukung kebijakan yang strategis. Di Indonesia sendiri, potensi ekonomi digital diperkirakan mencapai US$365 miliar pada tahun yang sama.
Topik hangat ini mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peluang dan Tantangan Bisnis Data Center di Indonesia, yang berlangsung di Hotel Nemuru Grand Bellevue, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2025). Sebelum pelaksanaan diskusi, dilakukan soft launching dua portal media digital yakni LandBank.co.id dan InfoDigital.id.
Denny Setiawan, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kemkomdigi yang hadir sebagai pembicara mengatakan, insentif fiskal seperti pengurangan pajak untuk impor perangkat dan penyedia layanan data center akan meningkatkan daya saing Indonesia dibanding negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. “Namun insentif ini harus didukung kepastian hukum jangka panjang agar investor merasa aman,” ujarnya.
Baca Juga : Sektor Industri Masih Prospektif, 43% Didominasi Data Center
Ia juga menekankan pentingnya simplifikasi perizinan dan perencanaan pembangunan pusat data yang tidak lagi hanya terkonsentrasi di Batam dan Jabodetabek, tetapi tersebar hingga wilayah Tengah dan Timur Indonesia. Lokasi ideal, menurutnya, sebaiknya dekat dengan titik pendaratan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) guna menekan latensi.
Walau PLN memiliki cadangan listrik, tarif yang masih tergolong sebagai tarif bisnis juga menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, penggunaan energi hijau akan menjadi daya tarik tambahan bagi investor global.

Sementara itu, Esti Susanti, Associate Director – Head of Industrial Services, Leads Property menyoroti tren peningkatan kebutuhan hyperscale data center serta permintaan dari sektor cloud dan AI. Ia menyebut peran perusahaan properti seperti Leads sangat penting dalam menghubungkan lahan potensial dengan para investor yang ingin masuk ke pasar ini. “Industri data center merupakan peluang bisnis yang masih potensial untuk digarap,” kata dia.
FGD yang dipandu oleh Edo Rusyanto, wartawan senior LandBank.co.id ini juga menghadirkan Gidion Suranta Barus dari Lintasarta yang menjelaskan dari sisi penyedia layanan, bahwa perusahaannya lewat Lintasarta AI Factory, yang menawarkan solusi sovereign AI seperti GPU Merdeka dan Cloudeka untuk startup, institusi riset, dan perusahaan nasional.
Baca Juga : Kembangkan 9 Kota Terpadu, Summarecon Tawarkan Ekosistem dan Magnet Bisnis Baru
“Distribusi data center masih terkonsentrasi di Jakarta, mencapai 55%, sehingga perlu diversifikasi lokasi agar tidak terjadi risiko beban terpusat,” kata Gidion. Ia menambahkan bahwa Lintasarta tengah memperluas jaringan konektivitas dengan bandwidth tinggi dan latensi rendah ke berbagai wilayah strategis.
Potensi Data Center Di Indonesia Timur
Sedangkan Hendra Suryakusuma dari IDPRO menggarisbawahi pentingnya perhatian lebih pada kawasan Indonesia Timur, yang sejatinya memiliki potensi besar, namun terkendala minimnya infrastruktur, termasuk jaringan kabel optik yang stabil.
Ia menyatakan bahwa keberadaan pusat data kini tak terelakkan seiring transformasi digital yang mencakup AI, IoT, media sosial, e-commerce, dan pengembangan kota pintar. “Semua ini menghasilkan lonjakan volume data dan kebutuhan akan kapasitas penyimpanan serta pemrosesan, sehingga data center menjadi tulang punggung digitalisasi nasional,” pungkas Hendra.
















