Jualan Properti Harus Gunakan Emosional

0
pameran properti
Ilustrasi suasana pameran properti.

TIPS&TRIK – Agen properti atau broker properti biasanya memiliki tugas sebagai perantara antara investor atau pembeli.

Namun, sebenarnya tidak hanya itu tugas seorang agen properti. Mereka juga harus memahami penjualan berdasarkan emosional. Direktur Repower Indonesia Rully Muliarto mengatakan, dirinya menguji kemampuan peserta untuk perkenalkan diri selama tiga detik, namun tidak satupun peserta yang berhasil.

Hal itu dilakukan Rully yang merupakan Asesor di LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) AREA Indonesia, saat kegiatan webinar beberapa waktu lalu. Dirinya juga menyentil para peserta webinar yang mematikan videonya, dan disaat itu dia mengatakan kenapa harus dimatikan videonya karena akan mempersulit terjadinya perkenalan satu sama lain.

“Kita tidak dapat menjual diri kita, jika kita sendiri tidak menampakkan diri kita. Apalagi dengan virtual, kita bahkan bisa merename identitas kita agar orang lain tahu siapa kita. Pergunakan kemajuan teknologi untuk menambah efektivitas dan efisiensi dalam memudahkan anda berjualan,” ujar Rully. Berjualan, kata dia, tidak hanya mengandalkan logika tapi juga emosionalnya, perang harga, perang diskon itu biasa namun yang perlu anda sentuh adalah emosionalnya.

Contoh yang menyentuh emosional, sambung Rully ketika menawarkan kepada konsumen, rumah yang terletak di Depok dan berdekatan dengan Universitas Indonesia (UI). “Jika nanti anaknya masuk UI rumahnya sudah dekat, itulah yang disebut dengan emosional,” kata Rully. “Anda mau cat rumah, tidak peduli merk apa yang anda pakai tetapi kebanggan anda ketika rumah itu dicat dengan warna yang menawan, itu yang menyentuh emosional anda,“ lanjutnya.

Perlu diketahui, sambung Rully, dalam setiap penjualan, agen dituntut memahami product knowledgenya, jangan sampai apa yang ditawarkan namun tidak tahu apa produknya. Semisal meliputi lokasi, spesifikasi dan logikanya, jangan lupa masukkan juga unsur emosionalnya.

“Kita membeli rumah itu karena kita ketemu dengan ekspektasi kita, seperti contoh saat bepergian ke Mall kita diketemukan dengan suatu hal yang tidak kita butuhkan tetapi yang ditawarkan menarik hati kita untuk beli, jadi itulah yg dikenakan emosionalnya,“ pungkasnya. (rep. Kevin)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 181

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link