Property & Bank

Pasar Properti 2024 Tetap Menjanjikan, Rumah Tapak Paling Prospektif

properti
Associate Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea

Propertynbank.com – Meskipun masuk dalam tahun politik, sejumlah analis dan pelaku usaha optimis pasar properti pada 2024 tetap tumbuh. Hal ini bisa diprediksi lantaran adanya berbagai faktor pendukung, salah satunya kemudahan insentif bebas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang sudah disiapkan pemerintah menjelang akhir 2023.

Associate Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea mengatakan, peluang pasar rumah tapak Jabodetabek 2024 akan menggeliat. Mengingat pemerintah telah menggulirkan insentif kebijakan PPN DTP bagi konsumen yang membeli hunian di bawah Rp2 miliar.

“Tentunya, insentif PPN DTP, yang akan meringankan beban pajak bagi konsumen, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mengakses properti di kategori di bawah Rp2 miliar, ini akan memacu likuiditas pasar properti dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi sektor tersebut,” ungkap Martin dalam Property Market Outlook 2023 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Tak Terpengaruh Tahun Politik 2024, Sektor Properti Yang Bidik End User Masih Prospektif

Martin menjelaskan, optimisme pasar rumah tapak sebetulnya sudah terlihat dari jumlah pasokan yang meningkat. Berdasarkan data dari Leads Property Services Indonesia pada pertengahan 2023, rumah tapak di Jabodetabek ada 162 ribu unit. Dari 162 ribu unit tersebut, sebanyak 44% ada di Tangerang, Bekasi 25%, Bogor 21%, Jakarta 5%, dan Depok 5%. “Kinerja penjualan positif masih akan terjadi hingga tahun 2024 ditengah perlambatan pertumbuhan pasokan dan permintaan,” kata dia.

Selain insentif PPN DTP, potensi kerja sama pengembangan township juga akan membantu pasar rumah tapak tetap tumbuh. Karena pengembang besar akan fokus pada pembangunan skala township. “Ini yang akan membuka peluang kerjasama dengan investor asing yang selain akan memberikan akses modal namun juga pengalaman dan keahlian,” jelas Martin.

Sedangkan untuk permintaan pasar apartemen sewa, imbuh Martin, diperkirakan akan pulih secara bertahap seiring dengan kembalinya aktivitas bisnis serta datangnya ekspatriat ke Jakarta. Menurut dia pasar apartemen sewa di Jakarta masih didominasi oleh ekspatriat.

Baca Juga : Loan Market Optimis 2022 Prospek Pasar Properti Cerah

Lebih lanjut Martin memaparkan, terdapat sekitar 100.000 ekspatriat di Indonesia, khusus di Jakarta ada sekitar 6.000-an ekspatriat. Hingga kuartal-III 2023, ada sekitar 10.000 unit pasokan apartemen sewa di Jakarta dengan rincian 48% ada di Central Business District (CBD) dan 52% berada di luar CBD atau outside CBD (OCBD).

“Seiring dengan kembalinya mereka dari negara masing-masing khususnya 2 tahun lalu, sudah mulai ada perbaikan. Tapi tetap ada pasokan baru jadi tetap rata-rata okupansi rate nya di 61%, pasokan sekitar 10.000 unit,” tegas Martin.

Potensi Properti di Wilayah Penyangga

Sementara itu, Co-Founder dan CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono menambahkan, pembangunan infrastruktur yang masif akan membawa dampak signifikan terhadap potensi pertumbuhan pasokan rumah tapak. Kehadiran akses tol misalnya, membantu Depok dan Bekasi mengalami kenaikan harga signifikan setahun terakhir, sementara harga rumah di Jakarta tumbuh terbatas.

Baca Juga : Bagi Leads Property, Sektor Perkantoran Tetap Leading

Wilayah Tangerang memiliki data pertumbuhan paling tinggi yakni 44% disusul Bekasi yang tumbuh sekitar 25%. Tangerang dan Bekasi memiliki pasokan rumah tapak paling tinggi karena di daerah tersebut punya lahan yang cukup luas. Jarak yang lebih dekat dengan Jakarta membuat pekerja Jakarta memilih tinggal di Bekasi dan Tanggerang.

“Lahan di Bekasi dan di Tangerang itu masih sangat melimpah. Tentu ini jadi sasaran developer untuk akuisisi lahan, sementara di Depok sudah agak dense, Jakarta lebih lagi densitynya, jadi Jakarta harus ke apartemen (huniannya). Kemudian Bogor juga sedikit pasokannya,” tegas Hendra.

Lebih lanjut Hendra menyebutkan, selama pandemi harga jual rumah di Jabodetabek jug mengalami peningkatan. Pada kuartal-III 2023 harga jual rumah tapak di Jabodetabek adalah Rp 2,5 miliar. “Pergerakan pasar rumah tapak di Bodetabek cenderung tumbuh positif sejak pandemi. Ini adalah sektor yang cukup tahan banting selama pandemi dan kini sudah mulai berangsur pulih,” tandas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini