
Propertynbank.com – Bisnis perkantoran merupakan salah satu sektor yang terus menunjukkan perbaikan. Dari sisi pasokan, memang belum ada penambahan ruang perkantoran baru. Namun, permintaan dan tingkat hunian mengalami peningkatan. Sementara harga sewa relatif stabil dan tidak terjadi kenaikan yang signifikan.
“Meskipun harga sewa kantor secara keseluruhan di Jakarta masih dalam arah koreksi, namun beberapa gedung kantor di pasar CBD mulai menaikan harga sewa mereka seiring peningkatan okupansi dari gedung,” ujar Darsono Tan, Co-Founder & Senior Director Leads Property, di Jakarta, Kamis (19/6).
Menurut Darsono, total ruang kantor yang belum terserap oleh pasar setara dengan sekitar 40 gedung perkantoran dengan grade A. Untuk kenaikan tingkat hunian kantor komersial di Jakarta dalam satu tahun terakhir, yang ditopang oleh aktifnya permintaan dari sektor IT, Jasa konsultan, Co-working space dan Manufaktur.
Tenant, kata dia, cenderung berpindah ke gedung kantor yang lebih berkualitas dan di lokasi yang lebih premium. Green building menjadi salah satu persyaratan utama dalam pemilihan kantor terutama bagi tenant multinasional. Selain itu, akses ke transportasi umum (seperti MRT, LRT) dan kelengkapan fasilitas jadi daya tarik utama sehingga pada umumnya tingkat okupansi gedung menjadi lebih tinggi.
“Setiap koridor bisnis di CBD, punya karakter dan preferensi permintaan masing-masing. Tren full WFO menguat, walaupun tenant multinasional masih mengimplementasi WFA mengikuti policy global/regional. Kawasan Non- CBD yaitu Tangerang Selatan menjadi pilihan alternatif terutama bagi perusahaan start-up, fintech, dan teknologi karena kedekatan dengan kampus dengan gaya low-rise buildings,” jelasnya.
Baca Juga : Peminat Terbatas, Pemilik Gedung Perkantoran Tawarkan Paket Menarik
Darsono menyebutkan, kawasan Non-CBD Jakarta Selatan, terutama TB Simatupang dan Pondok Indah masih diminati sebagai penyangga CBD dengan akses transportasi yang baik dan biaya sewa yang lebih efisien.
Sedangkan kawasan Non-CBD Tangerang Utara, terutama PIK dan PIK-2 menjadi magnet baru pusat komersial, yang menjadi daya tarik bagi perusahaan asal Tiongkok yang membutuhkan lokasi dekat bandara, fasilitas lengkap, dan tidak bergantung pada konektivitas ke CBD.
Penambahan Lahan Industri
Dari sektor kawasan industri, Leads Property mencatata tidak adanya penambahan lahan industri pada Q1 2025, dikarenakan karena lahan industri mulai terbatas. Lalu, total penjualan lahan industri di Jakarta dan sekitarnya dalam tiga bulan terakhir. Penjualan lahan didominasi oleh wilayah Bekasi dan Karawang.
Menurut data Leads Property, industri data center, manufaktur alat tulis (stationary). logistik, dan consumer goods masih menjadi kontributor utama pada permintaan pada kuartal ini. Sedangkan investasi asing di Jakarta hingga Jawa Tengah cenderung didominasi oleh Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, dengan konsentrasi di sektor data center, otomotif, tekstil, dan manufaktur. Sementara itu, investasi domestik lebih banyak berasal dari sektor manufaktur, logistik, dan consumer goods.
Baca Juga : Tarik Peminat, Gedung Perkantoran Turunkan Tarif Sewa
Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property mengatakan, wilayah Bekasi dan Tangerang sudah tidak lagi diproyeksikan menjadi fokus kawasan industri karena sudah menjadi kawasan hunian penyangga Jakarta sehingga akan menjadi sektor penyangga komersial CBD, seperti back office finansial dan jasa servis selain TB Simatupang. Wilayah Kabupaten Bekasi (Termasuk Cikarang) hingga Karawang yang menjadi kawasan hunian alternatif yang lebih terjangkau untuk penyangga Jakarta diproyeksikan akan bertransformasi menuju industri bersih dan teknologi tinggi (clean and hi-tech industry).
“Pengembangan kawasan industri kini bergeser ke arah Timur Jakarta hingga Jawa Tengah, didorong oleh faktor upah minimum lebih rendah, lahan lebih luas dan murah, serta tersambungnya Tol Trans Jawa. Contohnya bisa dilihat di Subang, Batang, dan Kendal,” ungkap Martin.
















