Dibanding Berhutang, Pemerintah Sebaiknya Cetak Uang Atasi Pandemi

0
Covid-19
ilustrasi virus Covid-19

UMUM – Pandemi Covid-19 bukan hanya memporakporandakan sistem kesehatan, tapi lebih dari itu juga ikut menggerogoti perekonomian.

Pakar pemasaran Tung Desem Waringin mengatakan, perekonomian di tengah pandemi sangat tergantung dengan ketersediaan uang untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, dia menghimbau bagi mereka yang mampu dan masih bisa membantu, untuk gotong royong membantu saudara-saudara, teman-teman atau masyarakat yang sedang menderita. Belanjalah agar ekonomi berputar.

“Pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk bisa segera menumbuhkan perekonomian masyarakat. Ada pelajaran menarik di Amerika Serikat (USA), dimana sejak 2008 sudah menggunakan jurus Quantitative Easing, cetak uang hingga USD 1 Trilyun. Menurut saya, langkah ini bisa dicontoh untuk membantu ekonomi rakyat,” tegas Tung Desem kepada propertynbank.com.

Tung Desem menceritakan, sejak April 2020 hingga Maret 2021, USA sudah mencetak uang, bahkan pemerintahnya hutang ke pihak swasta. Mereka bagi-bagi uang hingga USD 4,9 Trilyun atau sekitar Rp. 71 juta Trilyun (Kurs 1 USD = Rp. 14.500) atau sekitar 35 kali lipat dari cadangan devisa Indonesia yang dikumpulkan dengan susah payah selama 75 tahun merdeka.

Langkah ini tentu saja akan membuat inflasi. Namun, ternyata untuk kebutuhan pokok di USA tidak inflasi terlalu banyak. Memang betul, properti, emas perak, dan saham jadi naik. Yang lebih terkena adalah orang-orang yang punya uang banyak di bank. Ini yang bagus, agar yang kaya bukan hanya menabung tapi juga menginvestasikan ke hal produktif atau menggunakan untuk modal usaha. Rakyat miskin akan di beri uang tiap bulan.

“Yang lebih menarik di USA adalah bahan makanan, sewa properti tidak naik banyak. Dulu, jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selama 10 Tahun menjabat karena resesi dunia tahun 2008, yang Indonesia kena imbas juga. Pak SBY waktu itu juga cetak uang total naik 304% dari sebelumnya. Dari Rp. 995 Trilyun jadi Rp.4.024 trilyun, atau rata-rata naik 30,4% per tahun,” ungkap Tung Desem.

Sekarang selama 6 tahun 5 bulan, pemerintahan hanya mencetak uang dari M2 = Rp. 4.024 T jadi Rp. 6.888 T (per 23 April 2021). Atau hanya naik 71,15% per 6 th 5 bln atau naik hanya 11,09% per tahun (sumber dari https://statistik.kemendag.go.id/amount-of-circulate-money). Pemerintah, kata Tung Desem, walau dengan pertimbangan yang cermat, sekarang perlu lebih cetak uang.

“Dari pada hutang, mereka yang ngutangi kita tanpa harus kerja, tinggal cetak dan ngetik saja. Dan kita hutang harus Bayar. Bayar dari hasil kerja kita, aneh kan? Jadi mending bagi-bagi uang saja ke rakyat. Tentu saja usulan bagi-bagi ini hanya untuk rakyat yang membutuhkan. Memang sudah dilakukan, tapi nanggung, kurang banyak tidak bisa nabung dan tidak diwajibkan belajar tentang kecerdasan keuangan,” jelas Tung Desem.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 181

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link