
Propertynbank.com – Transformasi signifikan tengah berlangsung di pasar gedung kantor (perkantoran) di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta. Di tengah tekanan ekonomi global dan stagnasi pasokan baru, pergeseran ke arah keberlanjutan menjadi titik terang dalam sektor perkantoran premium.
Sebanyak 88% gedung perkantoran kelas premium di CBD Jakarta kini telah mengantongi sertifikasi hijau, menandai era baru dalam strategi okupansi dan investasi properti komersial di ibu kota.
Meski aktivitas sewa di semester pertama 2025 masih dibayangi ketidakpastian global, transaksi tetap terjadi, ditandai dengan pergerakan relokasi, sejumlah ekspansi, serta masuknya penyewa baru dari berbagai sektor strategis seperti pertambangan, energi, IT, e-commerce, dan industri kendaraan listrik (EV).
Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, tidak ada gedung kantor baru yang masuk ke pasar CBD Jakarta, sebuah kondisi yang diperkirakan akan berlangsung hingga setidaknya 2028. Namun demikian, tingkat okupansi tetap menunjukkan tren positif dengan mencapai 77,16%, mencerminkan optimisme pasar meskipun harga sewa rata-rata mengalami penyesuaian ringan dengan penurunan sekitar 1–2% (yoy).
Di semester pertama tahun ini, serapan ruang kantor tercatat sekitar 63.460 m², menunjukkan bahwa permintaan ruang tetap hadir, meskipun selektif. Total stok ruang perkantoran masih berada di angka 7,32 juta m², tanpa tambahan baru.
Baca Juga : LEVIRO Residences, Hunian Scandinasian Pertama di Bali Diluncurkan Oktober 2025
Dalam lima tahun terakhir, keberadaan gedung kantor bersertifikat hijau di CBD Jakarta meningkat secara signifikan, dan kini hampir semua gedung perkantoran kelas premium telah memenuhi standar keberlanjutan. Sertifikasi GBCI GREENSHIP tetap menjadi yang paling banyak digunakan, mencakup 61% gedung perkantoran di CBD, jauh melampaui sertifikasi internasional lain seperti WELL yang fokus pada aspek kesehatan dan kesejahteraan.
Menurut Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, tren ini bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah menjadi parameter utama dalam pengambilan keputusan penyewa (occupier).
“Pergeseran preferensi occupier ke gedung kantor ramah lingkungan menjadi nyata. Selain efisiensi operasional, bangunan bersertifikat hijau menawarkan ketahanan jangka panjang, terutama dalam pengelolaan energi dan air,” jelas Willson.
ESG Faktor Kunci Penyewa Gedung Kantor
Lebih jauh lagi, perusahaan, khususnya penyewa multinasional, semakin memasukkan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) ke dalam strategi real estat mereka. Tidak hanya sebagai bentuk kepatuhan, ESG kini dipandang sebagai pendorong nilai bisnis.
Baca Juga : Kerja Sama IRIJJ dan SOU Holdings Buka Peluang Bagi Anak Muda Bekerja di Jepang
Studi global (Y)OUR SPACE 2025 dari Knight Frank mencatat bahwa tiga prioritas ESG utama bagi perusahaan global dalam pengelolaan portofolio properti mereka adalah mengurangi jejak karbon. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan melalui lingkungan kerja yang berkelanjutan. Mencapai sertifikasi gedung hijau.
Dalam mempertimbangkan pengembangan gedung masa depan, fitur-fitur seperti sertifikasi hijau, fasilitas pengisian daya kendaraan listrik (EV), dan penggunaan energi terbarukan menjadi indikator utama dalam pemilihan lokasi dan properti.
“Penyewa di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mulai mencantumkan klausul ESG dalam perjanjian sewa mereka. Gedung yang selaras dengan prinsip ESG, terutama yang sudah bersertifikasi hijau, kini berada di posisi strategis untuk menarik penyewa berkualitas tinggi,” terang Jackie Cheung, Director of ESG, Knight Frank Asia Pacific.
Ruang Tumbuh Masih Besar
Meskipun 88% gedung premium telah bersertifikat hijau, secara keseluruhan, baru 37% dari total gedung yang disewa di CBD Jakarta yang mencapai standar tersebut. Ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar untuk konversi atau pengembangan ulang gedung non-hijau menjadi properti berstandar keberlanjutan.
Baca Juga : Terima Bantuan Rumah Dari Menteri PKP, Keluarga Alm. Affan Kurniawan Pilih Pesona Kahuripan Cileungsi
Di luar faktor sertifikasi, kesejahteraan karyawan juga muncul sebagai prioritas utama kedua bagi penyewa. Strategi real estat ke depan diperkirakan tidak hanya menekankan efisiensi, namun juga pada penciptaan lingkungan kerja yang mendukung produktivitas dan kesehatan mental karyawan.















