Property & Bank

Penjualan Masih Rendah, Pengembang Hati-hati Bangun Apartemen Baru

apartemen
Associate Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea

Propertynbank.com – Apartemen menjadi salah satu pilihan dalam memilih sebuah hunian selain rumah. Tetapi sayangnya penjualan apartemen di Jakarta tidak terlalu menggembirakan bahkan tidak banyak perbedaan yang signifikan dibandingan dengan beberapa kuartal dan juga di tahun sebelumnya.

Sektor apartemen menjadi salah satu yang paling terkena dampak dari terjadinya Pandemi Covid-19. Sehingga setelah pandemi, pengembang cenderung lebih berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru di tengah kenaikan biaya konstruksi dan ketertarikan akan rumah tapak. Kebanyakan pembeli-pembeli hunian saat ini lebih memilih mencari rumah tapak sebagai tempat tinggalnya.

Berdasarkan data dari Jakarta Property Market Outlook 2024 dari Leads Property, rata-rata penjualan apartemen di Jakarta saat ini bekisar 83% dengan presentase penjualan apartemen di lokasi Central Business District (CBD) sebesar 93% dan di luar CBD atau Outside CBD (OCBD) sebesar 81%. Tingkat penjualan paling besar berada di segmen Middle sekitar 93%, disusul Middle – up sebesar 86%, Upper sebesar 84%, Middle – Low sebesar 68% dan Luxury sebesar 66%.

Baca Juga : Tingkat Sewa Apartemen Jakarta 2023 Meningkat

“Untuk pasokan apartemen saat ini yang berada di Jakarta ada sekitar 259.000 unit dengan presentase apartemen yang terdapat di daerah CBD sebesar 12% dan Outside CBD (OCBD) sebesar 88%. Bedasarkan segmen yang membeli apartemen kebanyakan berada di Middle sebesar 37%, Middle – Low sebesar 30%, Middle Up sebesar 21%, Upper sebesar 10% dan paling sedikit di segmen  Luxury sebesar 2%,” jelas Associate Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea.

Harga Rata-rata Apartemen

Selanjutnya dari segi harga rata-rata apatemen yang berada di Jakarta adalah Rp 27,2 Juta per meter persegi. Berdasarkan lokasi harga apartemen yang berada di lokasi CBD yaitu Rp 56,1 juta dan OCBD Rp 25,7 Juta. Bedasarkan segmen masyarakat yang membeli apartemen kebanyakan berada di segmen Luxury Rp 69,4 juta, Upper dengan harga Rp 45,8 juta, Middle-up dengan harga Rp 32,8 juta, Middle Rp 24,2 juta dan Middle – low dengan harga Rp 17,4 juta.

Kedepannya diperkirakan hanya ada sedikit apartemen baru yang akan lauching unitnya juga tidak banyak hanya sekitar 300-an unit. Permintaan juga diperkirakan tidak akan meningkat secara signifikan karena masih banyak yang belum terjual dan menurut data Leads property terdapat lebih dari 15 proyek yang mangkrak beberapa tahun terakhir ini di wilayah Jabodetabek.

Pasokan tahunan apartemen terjadi paling banyak di tahun 2018 yang berada diwilayah OCBD yaitu sekitar 3.000 unit lebih dan daerah CBD sebanyak kurang lebih 500 unit dan semakin menurun disetiap tahunnya.

Baca Juga : Permintaan Apartemen Meningkat, Ciputra Group Topping Off Tower The Newton 2

“Sehingga langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk kedepannya adalah pengembang lebih berfokus untuk menjual sisa unit yang belum terjual dan juga menyelesaikan proyek pembangunan yang sudah ada atau sedang berjalan. Saat ini keberadaan unit apartemen di Jakarta dinilai oversupply sehingga para pengembang menunda meluncurkan apartemen baru,” ungkap Martin lebih lanjut.

Tidak hanya itu, adanya persaingan yang terjadi antara unit primer dan unknit sekunder juga diperkirakan akan terjadi karena banyaknya pemilik sekunder yang akan melepas aset mereka karena harga properti yang cenderung stabil dan tidak mengalami kenaikan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, pembayaran KPA/KPR tetap masih diminati sebagian besar calon pembeli.

Selain itu, proses promo juga tetap berlanjut karena cara bayar yang fleksibel dan gimmick seperti cashback dan voucher juga akan terus diluncurkan dan ditawarkan sebagai added value property yang dijual. Selanjutnya infrastuktur sebagai komponen penting dengan rencana pengembangan infrastuktur ke depan akan tetap menjadi acuan pengembang apartemen kedepannya.

Insentif PPN DTP menjadi katalis permintaan, insentif PPN DTP akan membantu meringkankan beban pajak bagi konsumen, sehingga diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mengakses properti di kategori hunian dibawah 2 miliar yang mana kebijakan ini juga terbuka untuk WNA. (Nabilla Chika Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini