Potensi Besar, Hery Gunardi Targetkan Bank Syariah Indonesia 10 Besar Dunia

0
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi (poto republika.co.id)

INFO PERBANKAN – Senin (1/2), merupakan tonggak sejarah dalam industri syariah di Indonesia dengan mulai beroperasinya Bank Syariah Indonesia. Peresmian secara langsung dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Bank Syariah Indonesia merupakan merger tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS). Ketiga bank tersebut merupakan bank milik pemerintah yang fokus dalam industri perbankan syariah. Dengan bergabungnya ketiga bank tersebut, maka total aset Bank Syariah Indonesia menjadi bank syariah terbesar di Indonesia.

[irp]

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi mengatakan, merger ini tentunya dapat memperkuat basis bank syariah di Indonesia. Hingga akhir Desember 2020 lalu, total aset ketiga bank tersebut mencapai Rp 240 trilun. Dirinya yakin hal tesebut membuat BSI sangat solid dan memiliki potensi yang sangat besar untuk terus tumbuh.

“Kalau diperhatikan dari sisi industri, yang menarik adalah perbankan syariah ini tumbuh lebih tinggi dibanding perbankan konvensional. Bahkan, walaupun dimasa pandemi, bank syariah tergolong aman dan lebih stabil. Hal ini karena prinsip bagi hasil yang dijalankan, memberikan peluang kepada bank dan nasabah untuk bisa lebih fleksibel dalam mengatur bisnisnya masing-masing,” ujar Hery yang dikutip dalam wawancara dengan MetroTv, Selasa pagi (2/2).

[irp]

Bankir kelahiran Bengkulu ini sangat yakin bahwa market industri syariah masih sangat luas dan potensial. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Lalu juga ada potensi industri halal yang memiliki peluang sangat besar. “Kami akan masuk 10 bank syariah terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar,” janji Hery Gunardi saat peresmian BSI.

Sementara itu, adanya merger ini, Hery memastikan tidak akan ada perampingan atau pengurangan karyawan. Hal ini menurut dia karena Bank Syariah Indonesia akan jauh lebih berkembang, terlebih setelah dilakukannya merger. Pihaknya akan lebih meningkatkan produktivitas seluruh karyawan yang ada di setiap lini.

[irp]

“Meskipun kita akui bahwa sebelum bergabung, tiga bank syariah ini merupakan kompetitor. Ada 200 lebih cabang yang lokasinya saling berdekatan bahkan ada yang hingga berdampingan atau berhadap-hadapan. Inilah tantangan bagi kita untuk melakukan relokasi ke tempat-tempat yang merupakan blank spot atau belum terjangkau selama ini,” tegas pemilik gelar Master of Business Administration dari Universitas Oregon di Amerika Serikat ini.

Pada bagian lain, Ekonom Syariah Gunawan Yasni menjelaskan, respon pasar terhadap merger ini sehingga menjadi Bank Syariah Indonesia sangat positif. Menurut dia, pergerakan saham salah satu bank syariah yang bergabung yakni BRIS, sudah sangat luar biasa saat sebelum digabung. Dalam 6 bulan terakhir harga sahamnya bergerak cepat dari mulai Rp 200 hingga melejit ke Rp 3.000 an per lembar sahamnya.

[irp]

“Ini artinya animo masyarakat atau investor di pasar modal sangat tinggi menyambut perbankan syariah. Meskipun kapitalisasi BRIS belum termasuk yang besar di pasar modal, namun dalam 6 bulan belakangan menjadi saham primadona. Bahkan ketika harga saham emiten lain mengalami penurunan, kinerja BRIS sangat bagus,” kata Gunawan.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 181

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link