Property & Bank

Sektor Properti Bersiap Bangkit, Menuju Pemulihan di 2026

Summarecon Serpong, sektor properti 
Suasana kawasan Summarecon Serpong di malam hari

Propertynbank.com – Setelah melalui siklus ekspansi yang panjang dan fase perlambatan berkepanjangan, sektor properti Indonesia dinilai mulai mendekati titik balik. Periode 2013–2016 tercatat sebagai masa pertumbuhan agresif dengan maraknya proyek properti skala besar, baik di segmen residensial maupun komersial. Namun, sejak 2017 laju pertumbuhan mulai melambat dan semakin tertekan pada 2019 akibat pandemi Covid-19, yang dampaknya terasa hingga beberapa tahun berikutnya.

Hingga 2025, pelaku usaha dan investor masih cenderung bersikap defensif. Pengambilan keputusan dilakukan dengan kehati-hatian tinggi, seiring ketidakpastian global, penyesuaian kebijakan moneter, serta melemahnya daya beli masyarakat. Meski demikian, sejumlah indikator mulai memperlihatkan sinyal perubahan arah.

Memasuki 2026, sektor properti diproyeksikan memasuki fase pemulihan awal. Kenaikan harga sewa yang terjadi secara bertahap, kembali aktifnya pembelian lahan oleh pengembang, serta mulai dilakukannya akumulasi aset oleh investor menjadi penanda bahwa valuasi properti telah berada di level terendah. Dalam siklus industri properti, kondisi ini dikenal sebagai early recovery stage, yaitu fase awal setelah periode stagnasi.

Pengamat properti Anton Sitorus menilai, segmen logistik dan kawasan industri akan menjadi motor utama pergerakan pasar, di tengah stabilisasi sektor hunian. Ia melihat, terjaganya stabilitas makroekonomi nasional serta dukungan kebijakan fiskal akan memperkuat keyakinan investor, khususnya untuk investasi jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga : BP Tapera Gandeng 43 Bank Salurkan KPR FLPP 2026, Target 285 Ribu Rumah

Menurut Anton, arah pengembangan properti ke depan akan semakin mengarah pada konsep berkelanjutan. “Gedung hijau, kawasan berbasis transit-oriented development (TOD), serta pemanfaatan teknologi properti atau PropTech berbasis kecerdasan buatan diprediksi menjadi standar baru dalam industri,” ujarnya.

Selain itu, ia memproyeksikan adanya ruang penurunan suku bunga KPR ke kisaran 4,5–5,5 persen seiring pelonggaran kebijakan moneter. Dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap berada di level sekitar 5 persen, pengembang yang cepat beradaptasi terhadap digitalisasi dan prinsip ESG diyakini akan memimpin pasar.

Dari sisi kebijakan, pemerintah juga memperlihatkan komitmen kuat dalam mendorong sektor perumahan. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menargetkan pembangunan serta renovasi hingga tiga juta unit rumah sampai 2029. Program ini difokuskan untuk memperluas akses masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, terhadap hunian yang layak dan terjangkau.

Kebangkitan Sektor Properti Didorong Kebijakan

Dorongan pemulihan semakin diperkuat oleh kebijakan fiskal terbaru yang diumumkan pemerintah pada September 2025. Paket stimulus tersebut mencakup pembebasan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 100 persen untuk pembelian dan pembangunan rumah, subsidi bunga KPR sebesar 10 persen, serta subsidi kredit modal kerja perbankan sebesar 5 persen.

Baca Juga : Midea Rilis AC Celest Inverter, Bidik Penjualan 2 Juta Unit di Tahun 2026 

Kombinasi kebijakan ini dinilai mampu memperbaiki likuiditas perbankan sekaligus meringankan beban pengembang dan konsumen. Lebih dari sekadar stimulus jangka pendek, kebijakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor properti kembali ditempatkan sebagai salah satu penggerak utama pemulihan ekonomi nasional.

Faktor eksternal turut memberikan dukungan positif. Bank sentral di sejumlah negara Asia mulai menurunkan suku bunga acuan, membuka ruang bagi penurunan bunga kredit domestik. Likuiditas global yang lebih longgar, ditambah stabilitas politik pasca-Pemilu, turut memperbaiki sentimen pasar.

Dengan berbagai katalis tersebut, tahun 2026 dinilai sebagai momentum strategis bagi investor dan pelaku usaha yang berani mengambil langkah lebih awal. Segmen hunian landed, apartemen, hingga properti komersial diperkirakan kembali bergerak seiring pemulihan daya beli masyarakat.

Dalam perspektif siklus ekonomi, fase ini dikenal sebagai bottom to rise, yakni periode krusial di mana keputusan investasi saat ini akan menentukan posisi pelaku usaha dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

“Bagi masyarakat dan investor, strategi seperti meninjau ulang portofolio kredit, membidik kawasan sunrise yang ditopang infrastruktur transportasi, serta memanfaatkan layanan pembiayaan profesional menjadi langkah penting untuk menangkap peluang kebangkitan sektor properti pada 2026,” tandas Anton. (Laporan Arsya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan