Property & Bank

Knight Frank : Awal 2026 Pasar Properti Jakarta Mulai Menemukan Arah Pemulihan

Pasar Properti Jakarta
Tim panelis dari Knight Frank Indonesia

Propertynbank.com – Dinamika pasar properti Jakarta pada paruh kedua 2025 hingga awal 2026 menunjukkan pergerakan yang semakin selektif. Di tengah kondisi ekonomi yang masih berfluktuasi, permintaan tidak sepenuhnya hilang, namun bergeser ke segmen-segmen yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pasar. Hunian berbasis end-user, gedung perkantoran berkualitas tinggi, serta apartemen sewa dengan keunggulan lokasi dan layanan menjadi penopang utama.

Di sektor pasar kondominium di Jakarta saat ini semakin mencerminkan struktur permintaan yang didorong oleh kebutuhan hunian riil. Segmen pembeli cenderung mencari unit berukuran menengah, memiliki keterhubungan dengan transportasi publik, serta berada pada kisaran harga yang masih terjangkau.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menilai kondisi pasar masih berada dalam fase fluktuatif dan belum sepenuhnya stabil. Situasi ini membuat sejumlah proyek yang sempat tertahan konstruksinya belum berani kembali merilis produk hingga akhir 2025.

Meski demikian, optimisme mulai muncul seiring dengan dua proyek baru yang memasuki tahap serah terima pada akhir 2025, khususnya di kawasan Non-CBD. Tambahan ini mengirimkan sinyal pemulihan, meski masih terbatas.

Secara keseluruhan, pasokan kondominium Jakarta bertambah menjadi 248.485 unit, dengan tingkat penjualan kumulatif mencapai 96,2 persen. Penjualan tertinggi masih didominasi segmen middle dan upper-middle yang menyumbang sekitar 68 persen dari total transaksi. Rerata harga unit baru tercatat menguat sekitar 2 persen secara tahunan, sementara penjualan stok baru berada di kisaran 59,6 persen di tengah hampir 4.000 unit yang masih aktif dipasarkan.

Di sisi lain, minat pembeli kelas menengah-bawah masih membandingkan kondominium dengan rumah tapak. Namun, segmen premium justru menunjukkan konsistensi permintaan dengan pertumbuhan stabil sekitar 1–2 persen dalam tiga tahun terakhir.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menegaskan bahwa pengembang perlu semakin jeli membaca kebutuhan pasar. Keseimbangan antara keterjangkauan harga dan kualitas produk dinilai menjadi katalis utama agar pertumbuhan transaksi bergerak lebih sehat dan berkelanjutan.

Pasar Properti Jakarta Perkantoran CBD

Sementara pasar perkantoran CBD Jakarta, memasuki 2026 menunjukkan fase pemulihan yang semakin terstruktur. Meski pasokan masih relatif tinggi, permintaan kini semakin berkualitas dan berbasis keberlanjutan.

“Penyewa perkantoran di kawasan CBD memprioritaskan gedung dengan sertifikasi hijau, efisiensi energi, kualitas udara dalam ruang yang baik, serta integrasi teknologi gedung pintar. Tren flight to quality masih berlanjut, dengan pergerakan permintaan menuju gedung Premium dan Grade A,” ungkap Syarifah Syaukat.

Gedung perkantoran Grade A saat ini mencatat tingkat hunian tinggi, mendekati 80 persen, didukung oleh permintaan yang tetap stabil di tengah ketidakpastian global. Aktivitas serapan ruang didorong oleh relokasi, penyesuaian ukuran ruang, serta restrukturisasi sewa.

Sepanjang 2025, pasokan ruang kantor di CBD Jakarta tidak mengalami penambahan dan tetap berada di kisaran 7,3 juta meter persegi. Kondisi ini berdampak positif terhadap tingkat hunian yang meningkat menjadi 79,3 persen, dengan total serapan ruang mencapai lebih dari 223 ribu meter persegi. Rerata harga sewa juga mulai bergerak naik sekitar 1 persen secara tahunan.

Potensi penyewa berasal dari sektor pertambangan, teknologi informasi, perbankan, konstruksi, serta industri energi. Tambahan pasokan baru diperkirakan baru akan kembali masuk pasar pada 2028.

Willson Kalip menambaahkan, ke depan daya saing gedung perkantoran akan sangat ditentukan oleh kualitas aset, performa ESG, kapabilitas manajemen gedung, serta kelengkapan fasilitas pendukung.

Sementara itu, Head of Strategic Consultancy Knight Frank Indonesia, Sindiani Adinata, menyoroti tren flight to green yang semakin menguat. Okupansi gedung bersertifikasi hijau terus membaik dan diproyeksikan mendorong transisi menuju dominasi green office building di kawasan CBD.

Apartemen Sewa Pulih Perlahan

Pasar apartemen sewa Jakarta mulai menunjukkan pemulihan yang lebih stabil, terutama di kawasan CBD dan Prime Non-CBD. Peningkatan mobilitas tenaga kerja profesional, penguatan sektor jasa dan teknologi, serta kembali aktifnya korporasi menjadi faktor pendorong utama.

Pada akhir 2025, sekitar 326 unit baru apartemen sewa masuk pasar, termasuk proyek di kawasan Menteng dan Antasari. Total pasokan apartemen sewa kini mencapai 10.131 unit, dengan rerata tingkat hunian berada di kisaran 66,5 persen.

Permintaan masih didominasi ekspatriat Asia, khususnya dari China, Jepang, dan Korea Selatan, disusul oleh ekspatriat asal Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Rerata harga sewa menunjukkan perbaikan dengan indikasi kenaikan 3–5 persen secara tahunan, meski apartemen non-servis menghadapi tekanan akibat ketatnya persaingan layanan.

“Pemulihan pasar apartemen sewa perlu dijaga agar tidak terjebak dalam kondisi softening market. Diferensiasi berbasis lokasi strategis dan layanan prima dinilai menjadi kunci untuk memperluas pasar dan menjaga resiliensi jangka panjang,” ungkap Syariaf Syaukat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan