
Propertynbank.com – Leads Property Indonesia merilis outlook terbaru pasar perkantoran 2025 yang menunjukkan pergeseran besar dalam preferensi perusahaan terhadap lokasi dan kualitas ruang kantor di Indonesia. Minimnya suplai baru di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta serta meningkatnya kebutuhan efisiensi biaya mendorong tenant untuk memilih gedung-gedung dengan kualitas lebih baik (flight-to-quality).
Menurut Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department, Leads Property, tren ini bahkan mengarah pada terbentuknya landlord market di beberapa subkawasan CBD, khususnya SCBD.
“Dengan tidak adanya pasokan baru di CBD dalam beberapa tahun terakhir, pasar bergerak menuju kondisi yang jauh lebih sehat. Ketersediaan ruang semakin rendah, sementara permintaan terhadap gedung berkualitas tinggi tetap kuat. SCBD kini mulai bertransisi menjadi landlord market,” jelas Martin.
Leads Property mencatat bahwa tenant dari sektor keuangan, IT, FMCG, logistik, hingga jasa profesional menjadi pendorong utama permintaan ruang kantor sepanjang 2024–2025. Martin menegaskan bahwa akses transportasi umum, termasuk MRT dan LRT serta kelengkapan fasilitas bangunan menjadi faktor utama kenaikan okupansi gedung di koridor premium.
Baca Juga : Perkantoran Green Building dan Premium di CBD Makin Diminati
Pada segmen perkantoran strata-title, pasar masih menunjukkan aktivitas di kawasan SCBD. Penjualan didominasi oleh unit sekunder karena pemilik menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan unit baru. Minimnya suplai baru membuat pasar tetap bergerak meski selektif.
Perusahaan fintech dan teknologi semakin memilih Tangerang Selatan, yang menawarkan lingkungan low-rise, kedekatan dengan kampus, serta biaya operasional yang lebih efisien. Kawasan ini kini menjadi alternatif utama bagi perusahaan digital yang ingin dekat dengan sumber tenaga kerja muda.
Darsono Tan, Co-Founder & Senior Director Leads Property menambahkan, kota-kota pendidikan seperti Bandung dan Yogyakarta kini masuk peta baru perkantoran nasional. Perusahaan-perusahaan besar, termasuk e-commerce dan profesional services, mulai memindahkan operasional non-klien dan pusat panggilan (call center) ke kedua kota tersebut.
“Biaya sewa di Yogyakarta hanya sekitar Rp80.000–100.000 per meter persegi, jauh lebih rendah dari Jakarta yang mencapai Rp250.000 per meter persegi. Ditambah dengan biaya hidup yang rendah dan ketersediaan tenaga kerja lulusan universitas top, kota ini menjadi pilihan logis bagi perusahaan yang ingin efisiensi,” kata Darsono.
Baca Juga : MGK Serang Kembali Sabet Predikat Perumahan Subsidi Terbaik, Raih GreenCon Award dari UI
Kondisi inilah yang mendorong permintaan sangat tinggi hingga menciptakan kekurangan pasokan (undersupply) ruang kantor modern di Yogyakarta. Sejumlah gedung telah terisi penuh oleh tenant dari Jakarta, termasuk perusahaan BPO, e-commerce, hingga layanan profesional.
Di tengah minimnya gedung kantor standar modern, banyak perusahaan memanfaatkan ruang kosong di mal karena sudah dilengkapi AC, genset, dan keamanan, sesuatu yang sulit diperoleh jika menyewa ruko tanpa modifikasi tambahan.
PIK2 Pasar Perkantoran Baru
Sementara itu, kawasan PIK dan PIK 2 saat ini sedang mencuri perhatian, terutama bagi perusahaan asal Tiongkok yang membutuhkan akses cepat ke bandara, fasilitas lengkap, dan tidak ketergantungan pada konektivitas ke CBD.
Leads Property mencatat meningkatnya permintaan konversi ruang kantor menjadi fungsi lain seperti hotel atau serviced apartment, ruang edukasi/kampus, klinik dan fasilitas kesehatan. Perubahan karakter permintaan ini menunjukkan tingginya kebutuhan adaptasi gedung terhadap perubahan model bisnis pasca-pandemi.
Baca Juga : BTN Housingpreneur 2025 Sambangi Surabaya, Tawarkan Ide Bisnis Hunian Masa Depan
Martin menambahkan, dukungan pemerintah daerah serta fleksibilitas regulasi menjadikan Yogyakarta sebagai magnet baru bagi ekspansi perusahaan. “Yogyakarta kini menjadi rising star di sektor perkantoran. Permintaan tinggi, biaya rendah, regulasi mendukung, dan tenaga kerja melimpah. Banyak perusahaan mulai menempatkan operasional di sini karena efisiensi bisa mencapai 30–60% dibanding Jakarta,” ungkapnya.
Menurut dia, tingginya permintaan ini bahkan membuat sejumlah pengembang lokal merencanakan pembangunan gedung-gedung kantor baru untuk menjawab kebutuhan pasar. “Perusahaan kini jauh lebih selektif dan strategis. Mereka mencari kualitas, efisiensi, dan kedekatan dengan sumber tenaga kerja. Inilah wajah baru pasar perkantoran Indonesia,” tutup Martin.
















