Property & Bank

Tak Bergantung MICE, Bisnis Hotel INPP Tetap Moncer

inpp
Presiden Direktur INPP, Anthony Prabowo Susilo (kiri) didamping Direktur Keuangan INPP Surina saat Media Gathering, Business Outlook 2025

Propertynbank.com – Pemerintah melakukan efisiensi anggaran di sejumlah sektor. Kebijakan ini tentu saja berdampak kepada aktifitas masyarakat dalam menjalankan bisnis, termasuk industri perhotelan. Kebijakan pemangkasan anggaran ini akan menyebabkan penurunan okupansi hotel, terutama yang bergantung pada kegiatan pemerintah seperti rapat, seminar, dan acara lainnya.​

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat menyebutkan bahwa okupansi hotel pada Januari 2025 di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung tercatat hanya 30-35%. “Jika kondisi ini berlanjut, maka hotel dan sektor pariwisata dapat terpaksa memangkas karyawan hingga 50%,” ujar Ketua PHRI Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi. ​

Menurut Dodi, diperkirakan sekitar 40.000 pekerja hotel di Jawa Barat terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penurunan okupansi dan pendapatan hotel. ​Belum lagi dampak ke industri terkait dengan bisnis hotel, yang diyakini akan berimbas kepada pengurangan karyawan seperti industri makanan dan minuman.

Baca Juga : Terus Melesat, INPP Jalankan Strategi dan Berinovasi Dengan Tepat

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum PHRI bahkan memperkirakan industri perhotelan berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp24,5 triliun akibat kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah. “Penurunan ini terutama dirasakan oleh hotel bintang 3 hingga 5 yang biasanya melayani kegiatan pemerintah,” ungkapnya. ​

Namun, penurunan okupansi ini sangat berdampak kepada hotel yang lebih banyak mengandalkan kegiatan seminar, konferensi, dan acara lainnya. Hotel-hotel ini biasanya memiliki ballroom atau ruangan besar yang banyak digunakan untuk kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions). ​

INPP Tak Andalkan MICE

Bagi Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau dikenal dengan Paradise Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan properti yang banyak mengandalkan industri perhotelan, kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah tidak begitu memberikan dampak yang signifikan. Padahal, Paradise Indonesia saat ini mengembangkan dan mengelola hingga belasan hotel yang tersebar disejumlah lokasi.

Presiden Direktur INPP, Anthony Prabowo Susilo mengatakan, bisnis hotel yang dijalankan oleh INPP lebih banyak membidik wisatawan yang hendak melakukan liburan. Letaknya pun berada di lokasi-lokasi wisata unggulan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan seperti Jakarta, Bali, Batam, Yogyakarta, dan Makassar. Bahkan di pulau Dewata Bali, Paradise Indonesia memiliki Hotel HARRIS, Tuban, Bali yang merupakan hotel pertama INPP pada tahun 2001, lalu Sahid Kuta Lifestyle Resort, termasuk Beachwalk Shopping Center dan Sheraton Bali Kuta Resort.

“Kami memang tidak terlalu mengandalkan kegiatan-kegiatan MICE untuk bisnis hotel kami. Boleh dibilang cuma satu atau dua hotel saja di Jakarta yang kami siapkan untuk kegiatan-kegiatan MICE. Namun, itupun hingga saat ini cuma digunakan untuk event kecil yang tidak memerlukan ballroom. Segmen kami lebih banyak mereka yang liburan,” ujar Anthony saat Media Gathering, Business Outlook 2025, Kamis (20/2).

Baca Juga : INPP Membangun Properti Ikonik Dengan Sentuhan Desain Unik

Sejumlah hotel yang dikembangkan dan dikelola INPP atau Paradise Indonesia saat ini antara lain Sheraton Bali Kuta Resort, Grand Hyatt Jakarta, Maison Aurelia Bali, Harris Hotel Tuban Bali, Harris Hotel Batam Center, Harris Suites fx Sudirman, Harris Resort Waterfront Batam, Harris Hotel Tebet, Pop Hotel Sangaji Yogyakarta dan Hyatt Place Makassar yang belum lama ini diresmikan.

Dalam mengembangkan properti termasuk perhotelan, INPP selalu sukses menjadikan properti tersebut menjadi ikon di lokasi masing-masing.

“Pendapatan utama INPP saat ini memang ditopang oleh kinerja hotel dan pusat perbelanjaan dengan kontribusi mencapai 80% lebih sebagai recurring revenue. Bisnis ini sangat cocok bagi kami dan pendapatan tersebut harus terus bertumbuh. Ke depannya, kami berharap bisa terus berkembang setiap tahun,” jelas Antony.

Disamping tetap mengandalkan pendapatan dari recurring revenue, INPP juga terus menjaga kepercayaan konsumen dengan menyelesaikan seluruh proyek yang dikembangkan sesuai target. Hingga saat ini, tercatat belum ada proyek properti yang dikembangkan oleh INPP mangkrak, bahkan sebaliknya mampu menyelesaikan proyek mangrak yakni Antasari Place.

“Yang menjadi kekuatan kami sehingga semua proyek bisa selesai, karena kami menjalankan model bisnis yang sedikit berbeda dari pengembang lain. Banyak developer mengandalkan pre-sales sebelum memulai pembangunan, sehingga mereka sangat bergantung pada kecepatan penjualan properti. Jika penjualan lambat, pembangunan juga tertunda,” tegas Antony.

Padahal, kata dia, bagi INPP property sales itu hanya berkontribusi sekitar 20% dari omzet. Karena itu, INPP memiliki fleksibilitas untuk menyelesaikan proyek meskipun penjualan belum mencapai target awal.

Baca Juga : INPP Canangkan Target Pertumbuhan Bisnis 20% di Tahun 2025

“Banyak pengembang menentukan batas penjualan tertentu sebelum memulai konstruksi, misalnya mencapai 40% dari total nilai proyek. Kami sudah berani membangun dengan pre-sales 15-20% karena arus kas perusahaan cukup kuat. Jika satu proyek tidak sesuai target, kami tidak serta merta menghentikan pembangunan, tetapi menunda proyek berikutnya,” ujar Antony membocorkan rahasia sukses INPP.

Oleh karena itu, dengan berbagai keberhasilan dan keunggulan serta track record positif yang dimiliki, Antony optimis INPP akan terus berkembang, termasuk minat masyarakat untuk membeli saham INPP. “Saya selalu mengatakan bahwa waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik kedua adalah sekarang,” seloroh Antony tentang prospek saham INPP.

Dengan menjalakan strategi bisnis yang tepat, membuat Paradise Indonesia makin eksis sejak berdiri 23 tahun yang lalu. Fokus kepada properti yang ikonik merupakan salah satu keunggulan INPP dalam menjaga branding. Selain tidak begitu mengandalkan MICE untuk bisnis hotel, INPP juga dituntut untuk lebih kreatif agar hotel-hotel yang dikembangkan dan dikelola tetap diminati.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, efisiensi anggaran oleh pemerintah mungkin akan berdampak. Namun, jika hotel-hotel memiliki program yang menarik dan dapat diterima oleh masyarakat, maka bisnis hotel akan tetap bertahan. Banyak hal yang harus dilakukan, sepeti menarik interaction untuk menarik pengunjung lokal dan global

“Bisa juga dengan membuka kegiatan-kegiatan festival skala global di bidang sport, pariwisata, dan culture yang akan membuka pasar lebih luas. Selain itu juga dapat membuka potensi pasar lebih besar. Lalu, hotel-hotel dapat memberikan penawaran-penawaran yang lebih menarik lagi terutama di sektor family agar dapat menarik pertambahan aktivitas publik,” ujar Syarifah menjawab pertanyaan propertynbank.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan