
Propertynbank.com – Perusahaan pengembang premium, CORE Concept Living, sedang mempersiapkan proyek properti terbaru di pulau Bali. Perusahaan ini didirikan oleh Shanny Poijes dan Victoria Fernandez, duo asal Swedia yang memiliki pengalaman selama dua dekade di dua benua, yang memiliki spesialisasi untuk real estat Eropa, desain interior, dan hotel butik.
Founder & CEO CORE Concept Living, Shanny Poijes mengatakan, pandemi COVID-19 memunculkan pasar properti baru. Mereka yang menginginkan tinggal, bekerja, ataupun berinvestasi di salah satu pusat pariwisata terbesar di Indonesia akan memilih Pulau Dewata sebagai lokasi tujuan.
“Hal ini dimungkinkan karena pada saat pandemi melanda, semua orang bisa bekerja dari mana saja, dan Bali menjadi salah satu tujuan utama dari tren baru ini,” tuturnya. CORE Concept Living berorientasi pada pembangunan hunian yang memiliki arsitektur mencolok dan selaras dengan budaya setempat, yang tidak hanya indah saat disewakan, tetapi juga bertahan dengan anggun.
Shanny Poijes memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam pengembangan real estat, manajemen properti, dan operasi penyewaan jangka pendek dan jangka panjang. Shanny juga berkesempatan terlibat dalam beberapa perusahaan rintisan, semuanya telah berkembang menjadi usaha yang sukses, seperti FFAB Fastighetsförädlarna AB di Swedia, City Apartments Stockholm AB, serta SEGAB Sofia.
Sementara Victoria memiliki pengalaman di bidang produksi dan komunikasi media selama lebih dari 18 tahun. Dia berhasil mengelola program pemasaran untuk berbagai merek dan industri, seperti Lenovo, Eurocard, Volvo, Unibail-Rodamco-Westfield, dan Bjorn Borg untuk menyebutkan beberapa di antaranya.
Baca Juga : Wisatawan Mancanegara Bidik Kawasan Nyanyi Bali Untuk Investasi Properti
Victoria juga memiliki pengalaman mendalam tentang industri hospitality, di mana dia dibesarkan dalam keluarga restaurateurs selama dua generasi. Kakeknya, Tore Wretman, adalah seorang pelopor dan chef paling terkenal dalam sejarah gastronomi Swedia dan pendiri banyak restoran di Stockholm.
Ketelitian Skandinavia berpadu dengan jiwa Bali, menciptakan hunian yang mendefinisikan ulang kehidupan di Pulau Dewata. CORE Concept Living bukan hanya tentang membangun hunian, namun membangun sebuah warisan di mana keluarga berkembang, persahabatan tumbuh secara organik, dan bangunan yang memiliki nilai dalam jangka panjang.
“Saya jatuh cinta kali pertama pada Bali ketika saya terjebak di sini selama lima minggu lebih pada saat COVID-19 melanda Dunia pada tahun 2020. Tidak pernah sedikit pun terbesit di benak kami untuk pindah ke sini. Namun pengalaman itu membuat segalanya berubah,” ungkap Shanny.
Dia menambahkan: “Bali bagi kami adalah sebuah kanvas yang sempurna untuk dunia arsitektur dan pengembangan hunian. Dan kami akan meluncurkan hunian berkonsep Skandinivia pertama di Bali dalam beberapa bulan ke depan.”
Baca Juga : The Pavilions, Hunian Wellness Pertama di Bali Resmi Diluncurkan Juni 2025
Gaya Skandinavia dikenal sederhana dan minimalis, namun tetap memberikan kesan mewah. Hal ini dicapai melalui desain yang cermat, penggunaan material berkualitas tinggi, sentuhan detail, serta perpaduan warna netral dan selera yang berkelas.
Ciri Khas CORE Concept Living
Gaya ini mengacu pada pendekatan desain yang sederhana namun elegan, dengan penekanan pada kepraktisan dan keindahan yang bersih. Ciri khas gaya ini meliputi penggunaan warna-warna netral yang hangat dan lembut, seperti krem dan putih, abu-abu, dan cokelat muda, serta material alami seperti kayu dan batu.
Melalui CORE, pengembang berfokus pada penciptaan investasi vila berkualitas tinggi yang layak Anda sebut sebagai rumah. Melalui pendekatan yang berbeda dan penerapan prinsip keberlanjutan, hal ini akan menambah kompetensi ekstra pada setiap proyek perumahan yang dihasilkan.
Baca Juga : Strategi Bisnis BWM Group Membantu Kebangkitan Properti Di Bali
Para pendiri CORE dikenal sebagai tokoh yang selalu mengutamakan gaya hidup berkelanjutan. Semua properti yang dibangun akan dilengkapi dengan panel surya, dimmer LED, dan desain pasif untuk mengurangi konsumsi energi, pengolahan air khusus, dan pengelolaan limbah ramah lingkungan.
“Ini adalah sesuatu yang lazim bagi orang Swedia, dan kami bangga dapat berkontribusi pada industri properti Bali dengan cara yang positif,” pungkas Shanny Poijes.
Daya Tarik Properti Bali
Sebagaimana diketahui, Bali adalah salah satu daerah yang mencatat kenaikan harga dan okupansi properti. Masifnya kunjungan wisatawan ke Bali, mendorong pembangunan properti di Pulau Dewata. Bukan hanya warga lokal dan warga negara Indonesia saja, warga negara asing (WNA) pun ikut menangguk keuntungan dari bisnis properti di Bali. WNA asal Rusia, Ukraina, Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika mulai banyak melirik bisnis properti di Bali.
Mordor Intelligence melaporkan, Pasar Properti di Indonesia diperkirakan mencapai USD 68,55 miliar pada tahun 2025, dan diharapkan mencapai USD 90,96 miliar pada tahun 2030, dengan compounded annual growth rate (CAGR) sebesar 5,82% selama periode perkiraan (2025 – 2030).
Sektor properti Indonesia telah menjadi salah satu landasan pembangunan ekonomi, dengan angka resmi dari Statistik Indonesia menunjukkan bahwa kontribusi PDB dari kegiatan properti mencapai Rp 488,31 triliun (USD 31 miliar) pada tahun 2022.
Baca Juga : Ecoverse Akan Menjadi Hunian Eco-friendly Pertama di Nuanu Creative City Bali
Pada tahun 2025, Pemerintah Provinsi Bali menargetkan total 17 juta kunjungan wisatawan, termasuk 6,5 juta wisatawan mancanegara (wisman). Angka ini sedikit lebih tinggi dari kunjungan wisman pada tahun 2024 yang berkisar 6,3 juta.
Keindahan alam Bali memang sudah tak terbantahkan. Dari pantai-pantai berpasir berwarna unik, deretan sawah hijau nan artistik, hingga kemegahan pura-pura kuno yang sarat filosofi, semuanya menyatu dalam harmoni budaya yang jarang ditemukan di tempat lain. Tapi lebih dari sekadar pemandangan, Bali juga menawarkan pengalaman hidup yang autentik dan spiritual—sesuatu yang dicari banyak orang di era modern ini. Ditambah dengan keramahtamahan penduduk lokal dan kekayaan seni yang terus hidup, tak heran jika Bali terus menjadi primadona dunia.
Laporan tahunan dari Travel Choice Awards 2025 menyebut bahwa Bali menempati posisi kedua, tepat di bawah Kyoto, Jepang. Penilaian ini didasarkan pada jutaan ulasan wisatawan global yang menilai destinasi berdasarkan keindahan alam, kekayaan budaya, kualitas fasilitas wisata, dan tingkat kriminalitas yang rendah.
















