Generasi baru, setelah generasi z akan dikenal sebagai ‘generasi zoom’. Kalau generasi milenial sering disebut sebagai “Instagram Generation” dan Gen-Z sebagai “Snapchat Generation” maka setelahnya, kita akan menyongsong lahirnya apa yang saya sebut “Zoom Generation” (sumber: Alvara Research Center). Sebelum wabah COVID-19 layanan videotelephony tumbuh biasa saja. Namun kini termasuk dalam jajaran industri yang tumbuh eksponensial. Peluang industri ini begitu luas untuk bidang mulai dari teleconferencing, telecommuting, distance education, hingga social relations. Kalau generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), maka Generasi Zoom tumbuh di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi. Semua pebisnis media, konvensional dan digital, akan dihadapi dengan kenyataan ini, dan ditantang menjadikan ini sebagai peluang bisnis yang baru.
Kemudian yang perlu diperhatikan juga perilaku konsumen dalam hal transaksi pembayaran juga mulai bergeser. Mereka ingin sesederhana mungkin. Praktis, mudah dilakukan. Pembayaran online melalui credit card, debit card berhadapan dengan uang digital seperti layanan gopay, link, dana, ovo, dan lainnya. Namun untuk pesan antar ke rumah juga tetap disediakan uang fisik konvensional. Provider harus membawa dan menyediakan uang kas sebagai kembalian yang telah disiapkan sebelumnya.
[irp]
Strategi harga ‘freemium’ yang mengikat pelanggan juga akan menjadi umum diterapkan. Produsen atau para pelaku bisnis harus mempertimbangkan alternatif layanan ini. Free alias gratis di awal, dan secara bertahap akan berbayar. Sama kasusnya dengan mendengarkan musik online spotify tadi. Awalnya gratis, namun beriklan. Pikiran otomatis sirkuit otak konsumen memang menyukai seperti ini.
Dalam kondisi pandemi yang belum pasti kapan akan berakhirnya, pilihan strategi hargi yang juga pas adalah mempaket atau mem-bundling harga 12 bulan ke depan. Sehingga marketer tidak juga dirugikan. Ingat di Indonesia pun telah ditetapkan oleh presiden sebagai bencana nasional atau nasional disaster, klausul ‘force majeure’ akan berlaku di setiap kontrak.
[irp]
Pikirkan hal ini. Namun anehnya, sebagai opsi lainnya, akan berjamur juga perilaku beli sekarang dan bayar kemudian. Fitur buy now pay later akan semakin booming, karena memberi solusi terhadap ketidakpastian dengan menunda pembayaran secara cash, khususnya pembelian melalui online. Otak emosional konsumen menyukai ini, sistem limbik dan dorongan survival brain aktif berfungsi. Otak suka yang prediktif, dan akan stres sesuatu yang tak jelas ujungnya.
Memang sangat menarik untuk dilanjutkan. Masih banyak yang belum kita bahas di sini. Sementara dengan tulisan ini harapannya dapat bermanfaat. Selamat mencoba dan terus semangat bergerak maju. Semoga masa pandemi ini segera berakhir. Aamiin. (BIS)
Penulis :
Bambang Iman Santoso
Neuronesia Community
















