Tuesday , August 4 2020
Home / Indeks Berita / Pergeseran Perilaku Konsumen di Masa Pandemi Covid-19

Pergeseran Perilaku Konsumen di Masa Pandemi Covid-19

Bambang Iman Santoso

KOLOM – Memasuki bulan ketiga masa-masa sulit pandemi kebanyakan warga telah rutin menyibukan aktivitasnya di rumah.

Hampir seluruh kegiatan dilakukan di rumah atau dari rumah. Selain seperti kerja dari rumah, termasuk berkomunikasi dengan anak lebih intens karena harus mendampingi anak sekolah di rumah. Beberapa teman juga jadi pandai memasak, menyuci pakaian dan menyeterika baju. Serta banyak cerita manfaat positif lainnya yang mengharukan. Kegiatan rumah tangga dan bersih-bersih rumah dijalankan dengan semangat dan bahagia, karena yakin gerakan fisik mereka di rumah dapat menggantikan olahraga yang berarti memperkuat dan memilihara sistem imun tubuh lebih baik. Working-living-playing.

BACA JUGA :   Lima Cara Bisnis Bertahan Di Tengah Wabah Covid-19 Dari Grant Thornton

Melalui webinar, seminar online, ada beberapa diskusi menarik yang membahas perilaku konsumen dan masyarakat pada umumnya selama pandemi ini.  Salah satu pertanyaannya yang menarik bahwa apakah pandemi dapat memengaruhi seseorang sampai dengan kepribadiannya berubah. Jawabannya masih mengambang. Namun yang jelas jika masa sulit ini berlangsung lama hingga lebih setahun mungkin saja bahkan kepribadiannya berubah.

Kedua, untuk beberapa orang yang kebetulan anggota keluarganya terjangkit virus ini hingga meninggal, mungkin akan shock berat dan berpotensi merubah connectome seseorang. Harus dilakukan segera trauma healing secepatnya. Jangan terlambat lebih dari sebulan, akan menyimpan memori pahit jangka panjangnya di hippocampus dan memicu rekaman negatifnya di amygdala pada sistem limbik otak yang bersangkutan. Hal ini berdampak buruk, baik depresi dan stres berkepanjangan, maupun berpotensi trauma yang menetap ke depannya.

BACA JUGA :   Fokus Biayai UMKM, Langkah Strategis BRI Hadapi Ketidakpastian

Perubahan perilaku sangat penting untuk diamati terutama untuk para marketer dan kita sebagai pengusaha atau pebisnis. Bukan bermaksud mendulang keuntungan di atas penderitaan orang lain. Justru berinisiatif dan berniat baik, yaitu; membantu teman, tetangga, saudara dan kerabat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya selama di rumah.

Dari data yang beredar viral di medsos; banyak korban nyawa akibat covid-19 memunculkan aslinya manusia sebagai mahluk sosial (social brain), yang melahirkan masyarakat baru yang penuh empati, welas asih, sarat solidaritas sosial (sumber: inventure knowledge). Seperti yang pernah dibahas pada tulisan saya sebelumnya, bahwasannya MNS (mirror neurons system) di masing-masing pikiran kepala kita sangat aktif bekerja. Orang-orang yang mengalami kelainan atau kerusakan pada fungsi MNS ini, akan bermasalah juga dengan fungsi empatinya.

Terkait dengan urusan kemanusiaan ini kita dapat melibatkan diri, dan bahkan berpeluang mendirikan usaha sosial. Misal; membantu mendistribusikan pasokan APD (alat pelindung diri) dan alat pendukung medis lainnya. Atau menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang terdampak pandemi dan lain sebagainya. Bukan berarti tak boleh branding dan memperoleh keuntungan. Banyak aksi sosial bila dikemas dengan baik memunculkan ekuitas merek yang kuat. Serta boleh mendatangkan revenue streaming, namun dengan margin yang sangat tipis. Dalam hal ini yang perlu diingat; yang penting setidaknya dapat menutupi biaya operasional.

BACA JUGA :   Dukung Lahirkan SDM Properti Berkualitas, Untar dan Jurnalis Group Jalin Kerjasama

Terkadang malah logikanya terbalik; untuk menggalang dana dan mengumpulkan sumbangan diperlukan program yang dikemas dengan brand semenarik mungkin dan yang meyakinkan. Menstimulus neurotransmitter oxytocin di otak, sehingga menimbulkan rasa percaya (trust) publik untuk berpartisipasi. Kemudian janji dan harapan itu perlu direalisasi dan dipelihara. Bagi konsumen brand is promise.

Kepedulian, empati, dan cinta kini menjadi alat untuk building brand yang paling ampuh di tengah merajalelanya wabah. Dengan making impact dan memberikan solusi terhadap kesulitan yang dialami masyarakat, maka perusahaan akan mendapatkan reputasi sebagai brand yang bertanggung jawab dan penuh empati. An empathic brand. Berbagai gerakan kepedulian dan aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat secara tulus mengurangi penderitaan orang-orang yang terdampak. Rasa simpati yang luar biasa diberikan kepada para pekerja medis dan sukarelawan yang telah berjuang menyelamatkan para korban dengan risiko nyawa.

BACA JUGA :   REI DKI Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim

Begitu pula dengan peluang bisnis di bidang medis. Di mana masyarakat akan dengan berhati-hati untuk memutuskan perlu tidak pergi ke rumah sakit. Karena mereka menyadari betapa sibuknya sekarang aktivitas rumah sakit yang sedang terfokus menangani wabah virus ini. Mereka juga menghindari resiko tertular COVID-19. Sebelumnya perilaku masyarakat telah dimanjakan dengan layanan BPJS. Sehingga sedikit-sedikit ke rumah sakit. Sekarang masyarakat sadar dan berperilaku hidup sehat, menjaga jarak sebisa mungkin untuk tidak ke rumah sakit. Namun kebutuhan konsultasi dan pemeriksaan jarak jauh tetap dirasa perlu. Seperti halnya remote working dan online learning, konsumen dipaksa untuk mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual. Blessing in disguise, krisis pandemi akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan yaitu telemedicine dan virtual health.

Nah, bagi provider dan perusahaan terkait hal ini juga merupakan suatu tantanngan untuk menjadi peluang bisnis. Bagaimana tetap dapat melayani kebutuhan kesehatan tersebut. Startup telemedicine akan tumbuh lebih cepat pasca COVID-19, dan persaingan untuk menghasilkan layanan terbaik akan kian ketat. Otak konsumen pada dasarnya pintar dan pelit. Namun juga sangat emosional. Begitu konsumen mendapatkan user experience (convenient, less-costly, time efficient) yang memuaskan maka layanan ini akan memasuki fase mainstream dengan pasar yang besar. Kalau sudah begitu, tak tertutup kemungkinan pemimpin pasar di layanan ini akan menjadi the next unicorn.

Check Also

sholat ied

Kementerian PUPR Salurkan 95 Hewan Kurban ke 12 Provinsi

SEKITAR KITA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kembali menyalurkan hewan kurban berupa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 172

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link