Property & Bank

Pergeseran Perilaku Konsumen di Masa Pandemi Covid-19

Terkait dengan urusan kemanusiaan, konsumen pada umumnya lebih religi. Terutama memasuki bulan suci ramadhan. Pada hakikatnya mendekat diri kepada Allah pencipta manusia, dalam deep subconscious mind-nya adalah melawan ketakutan. Listrik otak amygdala masyarakat sedang aktif-aktifnya menyala. Dengan mendekati diri diharapkan tidak terjadi banjir kortisol di kepalanya. Takut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar hutang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa. Fear of death, fear of economic, dan fear of actualization. Bersyukur kita di negeri ini termasuk bangsa yang beragama. Namun, bulan puasa kali ini sangat berbeda. Karena semuanya dilakukan di rumah. Di sinilah peluang bisnisnya, artinya timbul lagi permintaan-permintaan baru untuk memenuhi kebutuhannya.

Sholat tarawih yang biasanya diadakan berjamaah di masjid, tahun ini digantikan dengan sholat di rumah. Namun, dakwah atau pengajian masih bisa dilakukan secara virtual. Mendengarkan ceramah agama secara virtual sebenarnya sudah sering dilakukan sebelum-sebelumnya. Bahkan belajar membaca alquran secara online sudah banyak dilakukan oleh para netizen. Namun berbeda kali ini; tingkat intensitas, jumlah user, dan durasi time consuming-nya akan melonjak tinggi. Memelihara pertumbuhan interkoneksi synaps antar neuron di kepalanya terjalin.

[irp]

Ibadah dan dakwah secara virtual atau livestreaming akan booming, dan menjadi alternatif bagi para pemuka agama untuk berdakwah dan melakukan engagement dengan umat dan jamaahnya. Bagi para pelaku bisnis yang telah ‘main’ di industri ini sebelumnya akan diuntungkan. Karena trafiknya yang tinggi, banyak agency periklanan dan pemilik brand akan melirik dan mempertimbangkan untuk memindahkan atau memperbesar porsi anggaran belanjanya ke sini.

Seperti konten lainnya di luar agama, misal hiburan musik dan film, semakin berpindah dari yang masif menjadi personal. Konsumsi berita pun telah terjadi juga sebelumnnya di media sosial secara personal, di luar media konvensional. Namun apakah media konvensional elektronik tv dan radio benar-benar akan mati?

[irp]

Ternyata tidak juga. Kesempatan waktu berinteraksi dengan gadget dan komputer serta koneksi internet di rumah sangat tinggi. Informasi menjadi makanan otak konsumen. Namun terjadi anomali, ada titik jenuh. Mereka akhirnya sekali-sekali menyalakan perangkat televisinya. Mereka butuh hiburan. Akan tetapi begitu melihat dan mendengar berita covid-19 kembali dihadirkan di sini, pemirsa dengan serta merta akan segera memindahkan channelnya atau bahkan dimatikan kembali tv-nya. Kecuali mereka yang berlanggan tv berbayar. Mereka akan memilih channel konten yang menarik. Seperti pada youtube, useetv, dan video on demand. Mereka akan mencari dan sangat update film-film dunia terbaru. Sebagai pengganti keluar rumah menonton cinema di mall-mall yang sekarang mereka benar-benar membatasinya.

Bagaimana dengan radio? Selama PSBB (pembatasan sosial berskala besar) diberlakukan, serta masyarakat lebih banyak berdiam diri atau bekerja dari rumah, driving time sebagai andalan media ini akan menurun tajam. Hal ini penting bagi media konvensional ini. Bila di rumah pun, terutama generasi milenial ke bawah di kota-kota besar umumnya mendengarkan musik melalui komputer dan gadgetnya. Spotify paling banyak dinyalakan, baik berbayar maupun tak berbayar. Layaknya seperti radio, tak berbayar tentunya ada iklan yang harus didengar. Dan bagi mereka tak bermasalah, umumnya iklannya juga disesuaikan dengan taste-nya.

[irp]

Pengusaha di bidang media konvensional biasanya telah mengalami beberapa tahap evolusi. Mengikuti perkembangan virus, mereka juga bermutasi. Sebagai usaha ekspansi, awalnya memiliki layanan acara-acara kopi darat. Menyelenggarakan berbagai acara ‘off-air’ yang berkembang menjadi event organizer. Namun sekarang tak cukup itu. Mereka yang lari dan beradaptasi ke ranah digital lah yang sampai hari ini selamat dan berkembang. Semua acara kerumunan masa hari ini sementara tidak diperbolehkan. Bagian dari upaya social distancing. Konser musik, pertandingan olahraga, seminar, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lainnya tidak boleh diadakan. Harus pindah dalam bentuk virtual, artinya migrasi ke ranah digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan