Property & Bank

Permintaan Tumbuh Positif, Bakal Dongkrak Saham-Saham Properti

royal tajur
ilustrasi

Propertynbank : Sektor properti diyakini akan tetap membaik di tahun 2024 ini. Apalagi Indonesia masih berpotensi mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5% pada tahun 2024.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer, menyatakan prospek sektor properti di tahun 2024 sangat baik. Menurutnya ada dua faktor positif yang mendukung yakni adanya insentif PPN terbaru dari Pemerintah serta menurunnya tingkat suku bunga.

Axell Ebenhaezer menjelaskan, dengan adanya intensif PPN terbaru dari pemerintah, tentunya dapat membuat pembelian properti menjadi lebih terjangkau bagi konsumen. Sedangkan, dari sisi suku bunga, dengan tingginya prospek pemangkasan suku bunga oleh the Fed dan Bank Indonesia, yang diyakini akan memberikan dorongan positif terhadap sektor properti.

“Mayoritas pembelian properti di Indonesia menggunakan kredit, jadi menurunnya suku bunga akan mendorong penjualan,” ujar Axell seperti di dikutip dari liputan6.com Jumat (5/1/2024).

Menurut Axell, saham emiten properti yang dapat menjadi perhatian investor adalah saham SMRA. Ia menyatakan bahwa saham ini masih dihargai relatif murah, dan perusahaan memiliki sejumlah proyek pengembangan menarik, terutama di Serpong, Bogor, dan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Axell Ebenhaezer juga menetapkan target harga sahamnya dalam waktu dekat sekitar Rp 725 per saham.

Hal senada juga diungkapkan, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi  yang melihat tren properti di tahun 2024 masih akan tumbuh dengan positif. Hal ini  sejalan dengan berlanjutnya insentif PPN dari Pemerintah dan juga potensi pengetatan kebijakan suku bunga yang akan berakhir pada akhir kuartal I 2024.

“Tantangannya adalah jika pelemahan daya beli masyarakat Indonesia terjadi akibat dari suku bunga yang tertahan di level tertinggi sejak 2018 tersebut akan lebih panjang dari perkiraan pasar,” kata Audi

Seperti diketahui, kuartal II 2023 sektor real estate masih menunjukkan penurunan sebesar 12,3% year on year (YoY). Meski demikian, berdasarkan data dari Menko Perekonomian menunjukkan sektor perumahan dan konstruksi berkontribusi sebesar 14%-16% terhadap PDB Indonesia.

Efek Insentif PPN

Axell juga menjelaskan bahwa efek dari insentif PPN yang diberikan oleh pemerintah diharapkan akan memberikan dampak positif bagi emiten properti. Menurutnya, insentif tersebut diyakini dapat meningkatkan permintaan di sektor properti, memberikan dorongan tambahan bagi perusahaan-perusahaan properti, termasuk emiten properti seperti SMRA, yang telah disebutkan sebelumnya.

Dengan demikian, sektor properti diprediksi akan diliputi oleh sentimen positif. Faktor seperti angka backlog yang masih besar, mencapai 9,9 juta unit meskipun mengalami penurunan sepanjang 2023, diharapkan akan menjadi pilar utama untuk pertumbuhan di masa depan. Terlebih lagi, untuk tahun 2024, dengan kebijakan moneter yang diperkirakan akan lebih longgar, diprediksi akan memberikan ruang pertumbuhan yang lebih besar.

Sebagai rekomendasi bagi investor, Axell menyarankan untuk membeli saham BSDE dengan target harga Rp 1.650 per saham, dan juga untuk membeli saham CTRA dengan harga saham Rp 1.470 per saham. Ini merupakan pandangan analisisnya terhadap potensi pertumbuhan dan kinerja kedua saham tersebut dalam konteks perkembangan sektor properti yang positif.

Sentimen Suku Bunga

Investment Analyst Ashmore Asset Management Indonesia, Della Agatha Linggar menjelaskan disisi lain suku bunga saat ini sudah relatif rendah, sehingga menjadi daya tarik untuk mempertimbangkan KPR.

Secara garis besar, Della menilai sektor properti masih menarik diawal tahun 2024 ini. Sehingga menurut dia, developer perlu memasang siasat untuk menjaring konsumen dari kalangan end user dan home upgrader.

“Jadi bagaimana developer bisa mengcounter atau menyediakan demand sesuai dengan affordability first home buyer dan home upgrader. Sehingga kemungkinan seasonability ini akan terus berlanjut,” katanya.

Dari perspektif sentimen suku bunga, Della mencatat bahwa suku bunga bank sentral saat ini secara historis berada pada posisi terendah. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan positif bagi mereka yang berencana memiliki hunian dengan sistem cicilan atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Rendahnya suku bunga juga dianggap sebagai keuntungan bagi perusahaan untuk melakukan deleveraging.

Della menjelaskan bahwa saat leverage tinggi dan suku bunga rendah, perusahaan dapat mengalami peningkatan earning. Hal ini dikarenakan, setelah boom properti yang terjadi pada tahun 2012-2015, banyak perusahaan dan pengembang properti mencari pendanaan untuk melakukan akuisisi lahan baru atau melakukan land banking. Rendahnya suku bunga pada saat itu memungkinkan perusahaan mengurangi beban bunga, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

(Nabilla Chika Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini