
Propertynbank – Pemerintah dan sektor swasta perlu lebih giat dalam mendorong masyarakat untuk tinggal di rumah susun (rusun). Salah satu solusi utama, untuk menarik minat masyarakat tinggal di rusun, ketersediaan sarana transportasi publik yang murah dan terintegrasi. Dengan begitu konsep hunian vertikal menjadi lebih menarik. Dengan pendekatan berbasis Transit-Oriented Development (TOD) dan sistem tarif berbasis pendapatan, program ini dapat sukses dalam jangka panjang.
Agar masyarakat tertarik untuk tinggal di rusun, dibutuhkan strategi komunikasi yang efektif dan program insentif yang jelas. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan antara lain edukasi dan kampanye publik yang menampilkan keuntungan tinggal di rusun. Kampanye harus menyoroti manfaat tinggal di rusun, seperti akses mudah ke transportasi, efisiensi biaya, serta fasilitas pendukung seperti pasar, sekolah, dan rumah sakit.
Sosialisasi yang melibatkan tokoh lokal, pemimpin komunitas, dan influencer dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap konsep hunian vertikal. Pemerintah dan pengembang dapat menyediakan contoh unit rusun yang dapat dikunjungi masyarakat agar mereka dapat melihat langsung kenyamanan hidup di hunian tersebut.
Sewa terjangkau berdasarkan pendapatan dapat diterapkan dengan menyesuaikan tarif dengan kemampuan ekonomi penghuni dan dievaluasi setiap lima tahun untuk mengurangi subsidi secara bertahap serta mendorong kemandirian finansial.
Dukungan finansial dan subsidi awal, seperti subsidi sewa 100% untuk tahun pertama yang berkurang secara bertahap, akan membantu penghuni menyesuaikan diri secara finansial. Hunian juga harus dilengkapi dengan taman, ruang komunitas, dan layanan publik untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Rusun dan Transportasi Publik
Hunian vertikal hanya akan sukses jika didukung oleh transportasi publik yang efisien dan terjangkau. Sistem transportasi ini harus memiliki frekuensi tinggi, biaya rendah, dan mencakup berbagai moda transportasi. Pengoperasian bus dan angkot dengan interval pendek di setiap rusun akan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Pengembangan jaringan kereta atau LRT yang langsung menghubungkan kawasan rusun ke pusat kota akan meningkatkan daya tarik hunian ini. Tersedia tempat parkir kendaraan bagi penghuni yang ingin menggunakan transportasi publik untuk perjalanan lebih jauh.
Tarif angkutan umum dapat disubsidi berdasarkan pendapatan penghuni rusun, dengan tarif lebih murah atau bahkan gratis dalam periode tertentu bagi yang berpenghasilan rendah. Skema tiket bulanan dengan harga murah untuk semua moda transportasi yang terkoneksi dengan rusun dapat meningkatkan efisiensi biaya perjalanan.
Selain itu, penyediaan bus listrik atau shuttle gratis dari dan ke rusun dapat menarik minat masyarakat. Untuk daerah kepulauan atau wilayah yang sulit dijangkau, integrasi kapal atau bahkan subsidi penerbangan murah dapat menjadi solusi.
Banyak proyek rusun yang terbengkalai atau kurang diminati karena lokasi yang tidak strategis atau fasilitas yang kurang memadai. Pemerintah dapat melakukan revitalisasi dan peningkatan infrastruktur dengan merenovasi rusun yang kurang diminati serta menambahkan fasilitas seperti transportasi, ruang hijau, dan layanan publik.
Jika ada proyek yang mandek, pemerintah dapat mengambil alih, merestrukturisasi kepemilikan, dan menyesuaikannya dengan kebijakan hunian berpendapatan rendah.
Keberhasilan hunian rusun sangat bergantung pada keterjangkauan, fasilitas, dan sistem transportasi yang mendukung. Dengan strategi sosialisasi yang tepat, integrasi transportasi massal, serta skema tarif berbasis pendapatan, rusun dapat menjadi solusi nyata bagi hunian perkotaan yang layak dan terjangkau.
(IR.H.Indra Utama, M.PWK : CEO Jurnalist Media Network dan pemerhati masalah perkotaan dan kawasan permukiman)















