Survei Indonesia Water Institute : Konsumsi Air Bersih Meningkat Sejak Pandemi

0
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono (kiri) didampingi Chairman dan Founder IWI, Ir. Firdaus Ali, MSc, PhD,.

NASIONAL – Sejak pandemi Covid-19 melanda, penggunaan air bersih di tengah masyarakat meningkat tajam. Hal ini karena perilaku hidup bersih yang diharapkan mampu mengurangi resiko penularan virus mematikan itu, salah satunya adalah dengan rajin mencuci tangan.

“Tantangan baru muncul bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang belum selesai yaitu, untuk mencukupi kebutuhan air bersih yang meningkat untuk memastikan protokol kesehatan, dalam hal ini mencuci tangan, dilaksanakan dengan baik,” ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono, dalam webinar berjudul Pola Konsumsi Air Selama Pandemi, Kamis (11/2).

[irp]

Webinar yang diselenggarakan di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan juga diikuti oleh peserta melalui daring (online) itu, diselenggarakan dalam rangka peluncuran hasil penelitian tentang pola penggunaan air bersih oleh masyarakat selama masa pandemi Covid-19, yang dilakukan oleh Indonesia Water Institute (IWI).

Dikatakan Basuki, air bersih merupakan hal yang krusial dan telah ditetapkan sebagai salah satu isu prioritas oleh negara-negara anggota UNESCO diantara berbagai isu lainnya. Seluruh negara sedang berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selama lima tahun terakhir ini, kata dia, Kementerian PUPR terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketahanan air.

[irp]

“Ke depan, perlu disusun suatu kebijakan yang menyeluruh dan terpadu terkait pengelolaan sumber daya air, khususnya dalam rangka ketahanan air nasional. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, khususnya untuk rumah tangga, dibangun infrastruktur penyediaan air baku, seperti intake, jaringan distribusi, juga tampungan-tampungan air seperti bendungan dan embung sebagai sumber air baku,” jelas Basuki.

Terkait hal tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyediaan air baku mencapai 50 m3/detik, 500.000 hektar irigasi baru dan rehabilitasi 2 juta hektar irigasi eksisting, dan revitalisasi 15 danau prioritas hingga tahun 2024. Selain itu, dilakukan peningkatan menjadi 100% akses terhadap air minum yang layak, 90% akses terhadap limbah domestik (sanitasi), serta 100% akses layanan sampah perkotaan.

[irp]

Hasil kajian IWI bertajuk Study of Clean Water Consumption Patterns during Covid-19 Pandemic itu, sambung Basuki, akan menjadi masukan yang berharga bagi Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian PUPR, dalam upaya meningkatkan ketahanan air nasional. Survei  dilakukan secara daring (online) oleh IWI.

Chairman dan Founder IWI, Ir. Firdaus Ali, MSc, PhD,. mengatakan penelitian ini dilakukan pertama kali di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Penelitian dimulai sejak 15 Oktober hingga 12 November 2020 dengan melibatkan 1.296 responden di seluruh Indonesia. Firdaus Ali mengaku, dari hasil penelitian tersebut menemukan sejumlah temuan penting.

[irp]

“Pertama, ditemukan adanya perubahan pola penggunaan air bersih selama masa pandemi, dengan peningkatan kebutuhan air bersih sebanyak 2 hingga 3 kali keadaan normal atau sebelum Pandemi Covid 19. Peningkatan kebutuhan ini berhubungan dengan penerapan protokol kesehatan selama masa pandemi,” jelas Fidaus.

Kedua, sambungnya, air bersih tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tapi juga untuk air minum di beberapa daerah yang tidak terjangkau oleh air minum dalam kemasan (AMDK). Di daerah yang terjangkau oleh air minum dalam kemasan, masyarakat cenderung memilih air minum dalam kemasan sebagai alternatif sumber air minum.

[irp]

Dikatakan Firdaus Ali, secara alamiah AMDK merupakan gaya hidup, namun dalam masa pandemi ini masyarakat terpaksa menggunakannya sebagai sumber air bersih/minum. Bagi Pemerintah, ini adalah tantangan nyata yang sangat diharapkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Berikutnya, imbuh Firdaus, selama masa pandemi, pengeluaran rumah tangga mengalami peningkatan hingga 7% dari kondisi normal. Bila hal ini terus berlangsung, tidak hanya krisis air yang akan terjadi, tapi juga sulit untuk mengatasi pandemi Covid-19. Tambahan pengeluaran rumah tangga tersebut semakin memberatkan karena kondisi perekonomian Indonesia yang belum sepenuhnya pulih.

[irp]

“Banyak anggota masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Temuan IWI ini makin memperlihatkan pentingnya memutakhirkan infrastruktur air bersih di Indonesia agar terhindar dari krisis air bersih yang lebih dalam lagi. Pasalnya, sebelum pandemi Covid-19 Indonesia sudah berada dalam kondisi krisis air bersih,” tukas Firdaus.

Staf khusus di Kementerian PUPR ini menguraikan, saat ini air bersih perpipaan (yang disediakan oleh Perusahaan Air Minum) baru menjangkau 21,8% dari penduduk Indonesia (saat ini berjumlah 270,2 juta jiwa berdasarkan data BPS, Januari 2021). Pentingnya pembenahan infrastruktur air bersih ini diperlukan terutama karena Indonesia belum sampai pada puncak pandemi Covid-19.

[irp]

Oleh karena itu, tegas alumni ITB ini, negara harus turun tangan mengatasi isu krisis air bersih ini dengan membangun infrastruktur air bersih yang modern dan menjangkau seluruh penduduk Indonesia. Air baku di Indonesia jumlahnya melimpah (3,9 trilyun meter kubik), namun tidak sampai ke masyarakat karena infrastruktur air bersih yang masih terbatas dan pengelolaannya masih jauh dari sebagaimana mestinya layanan publik untuk kebutuhan dasar.

“Pemerintah juga harus mengambil alih penetapan tarif air bersih agar terjangkau oleh masyarakat namun menarik investasi atau kapital dari sumber-sumber non APBN/APBD. Pandemi Covid-19 menghasilkan perilaku baru masyarakat, terutama yang berkaitan dengan protokol kesehatan yakni, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,” tutur Firdaus.

[irp]

Pemerintah, sambungnya, harus  mampu menyediakan air bersih untuk masyarakat agar protokol kesehatan (mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir) bisa dijalankan dengan benar. Ketersediaan air bersih juga berkaitan dengan isu stunting, yang saat ini menjadi perhatian serius Pemerintah. “Bila air bersih yang cukup tidak tersedia, cita-cita menciptakan SDM Indonesia Unggul akan sulit dicapai,” pungkas Firdaus Ali.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 181

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link