Thursday , November 26 2020
Home / Indeks Berita / Efek WFH Properti Segmen Sewa-menyewa Turun, BI : KPR Tetap Andalan

Efek WFH Properti Segmen Sewa-menyewa Turun, BI : KPR Tetap Andalan

gedung
Deretan perkantoran dan apartemen di Jakarta

PROPERTI – Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Nailul Huda mengatakan, hampir semua sektor mengalami penurunan penjualan, termasuk sektor properti. Di sektor properti permintaan turun drastis, ketika pandemi.

Sebab, orang-orang yang biasanya menyewa kontrakan dekat kantor, kini bisa bekerja dari rumah. “Maka permintaan properti, seperti penjualan rumah, persewaan, dan lainnya turun tajam,” kata Huda, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (12/11/2020).

BACA JUGA :   Town House yang Mengesplorasi Nilai Investasi

Sebenarnya jika perekonomian sudah berjalan baik dan normal, maka permintaan sektor properti akan membaik dengan sendirinya. “Pemerintah sebenarnya cukup fokus untuk menyelesaikan permasalahan pandemi, maka sektor properti akan mengikuti,” katanya.

Jikapun diberikan insentif ke sektor properti, namun nampaknya akan percuma karena penurunan permintaan bukan dari harga, namun memang orang-orang tidak terlalu membutuhkan properti saat ini.

BACA JUGA :   Jadi Program Prioritas, 24 Komunitas Masyarakat Ajukan Bantuan Perumahan

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat, pada triwulan IIl-2020 pengembang masih mengandalkan modal dari dana internal perusahaan, sebagai sumber utama pembiayaan proyek perumahan. Dengan persentase sebesar 66,87%, terhadap modal perusahaan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko meyebut, sumber pembiayaan properti berikutnya yang digunakan oleh pengembang antara lain pinjaman perbankan dan pembayaran dari konsumen, dengan proporsi masing-masing 22,17% dan 8,56% dan total modal. “Berdasarkan komposisi dana internal, porsi terbesar berasal dari modal disetor (50,07%) dan laba ditahan (45,4%),” kata Onny, di Jakarta, pada Kamis (12/11/2020).

Sementara itu, pembelian properti residensial oleh konsumen mayoritas masih dibiayai dari fasilitas KPR. “Ini tercermin dari hasil survei harga properti BI, yang mengindikasikan mayoritas konsumen (76,02%) membeli properti residensial dengan menggunakan fasilitas KPR, sementara sebanyak 17,67% lainnya dengan tunai bertahap dan 6,31% dengan tunai,” jelas Onny.

BACA JUGA :   Waterfall by Crown Group Resmi Dipasarkan

Adapun pada triwulan Ill 2020, pertumbuhan KPR dan KPA secara tahunan tercatat kembali melambat dari 3,50% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 2,05% (yoy). Sementara secara triwulanan, penyaluran KPR dan KPA tumbuh 0,62% (qtq), membaik dan triwulan sebelumnya yang tercatat mengalam kontraksi -0,11% (qtq).

Sedangkan, pencairan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada triwulan Ill-2020 sebesar Rp2,114 triliun atau tumbuh sebesar 45,19% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang meningkat tinggi sebesar 169,17% (yoy). (Artha Tidar)

Check Also

Jelang Akhir Tahun, Paramount Land Raih Tiga Penghargaan Dari Event Berbeda

PROPERTI – Paramount Land berhasil meraih tiga penghargaan menjelang akhir tahun 2020 ini yaitu, Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link