Property & Bank

Jelang Ramadhan 1445 H, Diprediksi Bisnis Hotel dan Restoran Meningkat

Whiz Luxe, bisnis hotel dan restoran
Grand Deluxe Room. Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya

Propertynbank.com – Menjelang masuk bulan Ramadhan 1445 H, bisnis hotel dan restoran terlihat adanya peningkatan yang mencolok. Hal ini menandai persiapan industri perhotelan untuk menyambut musim liburan yang sibuk ini. Semakin dekatnya bulan suci Ramadhan menarik minat pelanggan untuk menikmati pengalaman kuliner dan akomodasi yang unggul.

Dengan demikian, bisnis hotel dan restoran bersiap diri untuk melayani dengan standar yang tinggi demi memenuhi permintaan yang semakin meningkat, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang untuk para pelanggan untuk merayakan momen ini.

Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, mengungkap bisnis properti ritel komersial seperti bisnis hotel dan restoran di Jakarta diperkirakan akan mengalami peningkatan pendapatan selama periode Ramadan dan libur bersama Idulfitri 2024.

Baca Juga : Hotel Hyatt Place Pertama Di Indonesia Hadir Di Makassar

Direktur Senior Markets JLL Indonesia Herully Suherman, menyatakan bahwa ada berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dan keluarga di restoran dan hotel selama periode tersebut, seperti acara buka puasa bersama. Hal ini membuat bisnis hotel dan restoran akan mendapatkan peluang besar pada bulan Ramadhan.

“Segmen ritel yang akan panen adalah food and beverages FnB, seperti restoran dan kafe. Menjelang Idulfitri 2024, banyak acara dari perusahaan, keluarga untuk buka bersama di Ramadan,” ujar Herully, di Media Breafing, Rabu (28/2/2024).

Selain restoran, industri perhotelan juga diharapkan dapat memperoleh keuntungan selama periode libur Idulfitri 2024. Proyeksi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menghabiskan waktu berlibur di hotel (staycation), yang diharapkan akan meningkatkan tingkat okupansi kamar hotel, dan bisnis hotel dan restoran pda umumnya.

Okupansi dan Bisnis Hotel dan Restoran Naik

Menurut data dari JLL, tingkat okupansi hotel di Jakarta selama Tahun Fiskal 2023 mencapai 61,5%. Namun, Herully menekankan bahwa permintaan terhadap fasilitas meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) diperkirakan akan sedikit menurun selama Ramadan.

Dalam konteks ini, restoran yang terdapat di dalam hotel dianggap sebagai aspek yang dapat mengkompensasi penurunan aktivitas MICE.

Sementara itu, Head of Research JLL Indonesia, Yunus Karim, memproyeksikan bahwa properti ritel dalam segmen pusat perbelanjaan kemungkinan akan mengalami sedikit penurunan kinerja tahun ini.

Baca Juga : Tingkat Hunian Hotel di Jakarta, Bali, dan Surabaya Meningkat Hingga 80 %

Menurutnya, tingkat okupansi mal di Jakarta diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 85% pada kuartal pertama 2024, menurun dari rata-rata okupansi sebesar 88% pada kuartal IV-2023.

Yunus menganalisis bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh pembangunan pusat perbelanjaan baru yang akan menambah segmen sebesar 100.000 meter persegi di seluruh Jakarta pada tahun 2024.

“Ini membuat tingkat hunian relatif tertekan sedikit, tetapi di 10 tahun terakhir masih sehat di 80%, kalau pun ada sedikit tekanan, ada pada kisaran 85% dengan pasokan baru yang masuk,” kata Yunus

Selain itu, diprediksi bahwa harga sewa akan terus meningkat sebagai bagian dari pertumbuhan yang sehat, seiring dengan peningkatan permintaan dan keterbatasan ruang yang tersedia. Pada kuartal IV/2023, harga sewa di Jakarta mencapai Rp578.684 per meter persegi per bulan.

Yunus menyatakan bahwa pertumbuhan pusat perbelanjaan di Jakarta dalam 3 hingga 5 tahun terakhir telah cukup terbatas. Akibatnya, tingkat okupansi tenant cenderung stabil.

Meskipun demikian, pemilik mall diharapkan dapat mengelola dan mempertahankan tingkat hunian dengan strategi campuran tenant yang tepat. Dalam hal ini, mereka dapat memilih penyewa yang beradaptasi dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan target pasar yang dituju.

Baca Juga : Kabar Baik ! Industri Perhotelan Tahun 2024 Diprediksi Makin Pulih

Paling tidak, terdapat tiga sektor tenant yang memiliki permintaan tertinggi, yaitu makanan dan minuman (food and beverage/F&B), merek fast fashion, dan kecantikan.

“Permintaan cukup aktif dari F&B seperti restoran. Fast fashion juga masih, jadi orang mau beli baju secara cepat, gampang dan sesuai tren saat ini, pergerakan tenant penjual fast fashion cukup aktif. Selanjutnya, beauty tenant berupa aksesori kosmetik cukup banyak, parfum juga cukup aktif pada 2023,” ungkapnya. (Nabilla Chika Putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini