
Propertynbank.com – Menurut laporan Knight Frank dalam Horizon Report, From Whiplash to Resilience : Corporate Real Estate in the New World Order, permintaan manufaktur dan logistik di Indonesia dan Vietnam diperkirakan akan tumbuh hingga 20% selama tiga tahun ke depan. Hal ini disebabkan karena perusahaan/industri semakin memprioritaskan pembangunan rantai pasokan regional yang tangguh daripada sekedar bereaksi terhadap fluktuasi tarif jangka pendek.
Perbedaan biaya struktural tetap menjadi pendorong utama bagi perusahaan multinasional dari China, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengalihkan modal Indonesia dan Vietnam di bawah strategi China+1. Dengan berinvestasi di pasar Asia Tenggara ini, perusahaan memperoleh akses ke fasilitas industri yang efisien dan dibangun sesuai kebutuhan, yang mendukung diversifikasi rantai pasokan.
Namun, penangguhan tarif US-China selama 90 hari baru-baru ini, yang mengurangi tarif dari 145% menjadi dasar 30%, telah menimbulkan ketidakpastian baru dalam keputusan relokasi industri. Ini semakin memperkuat permintaan akan sewa jangka pendek dan plug-and-play logistics parks yang fleksibel serta siap pakai.
Tim Armstrong, Global Head, Occupier Strategy and Solutions, Knight Frank, menyatakan, analisis mereka menunjukkan bahwa meskipun pengurangan tarif sementara memberikan ruang gerak bagi perusahaan/industri, strategi China+1 telah menjadi model operasi standar yang berlaku umum saat ini, bukan hanya respons terhadap tarif.
“Kita telah memasuki era dimana strategi perusahaan real estat harus berkembang dari ekspansi bisnis ke daya tahan operasional. Ini bukanlah penyesuaian siklus, melainkan transformasi struktural yang memerlukan pendekatan baru dalam perencanaan portofolio, struktur sewa, dan strategi lokasi,” kata Tim Armstrong.
Baca Juga : Knight Frank Prediksi Sektor Properti Tahun 2025 Masih Penuh Tantangan
Christine Li, Head of Research, Asia-Pacific, Knight Frank mengatakan, pergeseran ke model Asia untuk Asia semakin pesat, terlihat dari lebih dari 65% keputusan investasi rantai pasokan yang kini didorong oleh konsumsi di dalam Asia sendiri. Permintaan industri melonjak di negara-negara seperti Vietnam, India, dan Indonesia.
“Di sisi lain, pusat layanan regional dan penghubung seperti Singapura dan Hong Kong SAR berisiko terkena dampak sekunder dari kebijakan tarif AS. Ini terjadi karena gangguan rantai pasokan global dan limpahan dari ekonomi yang terdampak langsung,” ungkapnya.
Indonesia dan India mempertahankan potensi pertumbuhan yang kuat. Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan 15% hingga 20% dalam permintaan properti, khususnya terkait manufaktur, dipimpin oleh sektor elektronik, otomotif, dan logistik yang mencari fasilitas yang dibangun sesuai kebutuhan jangka panjang.
Sementara itu, pasar perkantoran India tetap kuat, menyumbang 47% dari aktivitas penyewaan regional pada tahun 2024, naik dari 36% pada tahun 2015, dengan rekor 6,68 juta meter persegi transaksi, didorong oleh perusahaan IT, Global Capability Centres, dan perusahaan multinasional yang tertarik oleh keunggulan talenta dan biaya.
Proyeksi Knight Frank
Vietnam tetap menjadi penerima manfaat utama dari diversifikasi China+1 tetapi juga termasuk yang paling terpapar tarif timbal balik AS. Riset Knight Frank memproyeksikan peningkatan 15 hingga 20% dalam permintaan ruang manufaktur di Vietnam, mencerminkan minat berkelanjutan dari masyarakat internasional, terutama perusahaan e-commerce besar China yang mencari fasilitas logistik lebih dari 100.000 meter persegi.
Baca Juga : Knight Frank Rilis Panduan Berinvestasi Di Indonesia
Meskipun China mungkin mendapat sedikit keringanan dari penurunan tarif, tantangan struktural tetap ada. Tingkat kekosongan industri di Shanghai dan Beijing terus meningkat akibat kelebihan pasokan. Oleh karena itu, pemerintah kini sangat berfokus pada konsumsi domestik sebagai pendorong utama untuk menyerap kelebihan ruang industri ini.
Hasil dari publikasi Knight Frank’s latest Global Corporate Real Estate Sentiment Index (GCRESI) mencerminkan pergeseran menuju ketahanan operasional. Meskipun sentimen langsung menurun setelah pengumuman tarif pada 2 April (-1,01 poin secara keseluruhan), indikator strategis jangka panjang seperti belanja modal (+0,04) dan rencana ekspansi fisik (+0,06) justru menunjukkan kekuatan.
Pola ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan kini lebih memilih pendekatan yang adaptif dan tangguh di pasar seperti Indonesia dan Vietnam, dibandingkan hanya mencari lokasi dengan biaya terendah. Ini adalah kombinasi antara kehati-hatian taktis dan keyakinan strategis.
Tim Armstrong menambahkan, real estat korporat kini bukan lagi sekadar penentuan lokasi; namun telah berkembang menjadi bagian krusial dari ketahanan operasional sebuah bisnis. Walaupun ada sedikit pelonggaran kondisi saat ini, lingkungan perdagangan yang ada sekarang semakin menegaskan pentingnya fleksibilitas dalam mengelola aset properti dan struktur perjanjian sewa. Perusahaan-perusahaan yang mampu menyesuaikan strategi properti mereka akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk meraih keberhasilan, apa pun hasil dari negosiasi antara Amerika Serikat dan China.
Baca Juga : Didominasi Sektor Kendaraan Listrik, Kinerja Kawasan Industri Positif
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menambahkan, di tengah tantangan ketidapastian global, Indonesia dapat menangkap peluang relokasi industri, baik dari US maupun China. Setidaknya keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia di tengah kompetisi regional adalah pasar domestik yang besar, pengembangan infrastruktur yang terus berlanjut, dan ketersediaan sumber daya alam.
“Namun, keunggulan tersebut perlu didukung dengan iklim investasi yang kondusif dari Pemerintah, baik berupa dukungan kebijakan maupun upaya menciptakan harmonisasi dengan masyarakat sekitar lokasi industri,” tutup Willson.
















